Negeri Laskar Pelangiku kini

Pantai Tanjung Tinggi      Menghabiskan masa kecil selama 5 tahun di pulau Belitung tidak banyak memori yang menempel dalam ingatanku. Rumah kakek yg luas tempat kami berkumpul dan sesekali aku berjalan kaki sendirian menuju perpustakaan daerah hanya untuk membaca komik donald bebek. Ada cemilan khas yang sering kami makan dikala sore, yaitu jengkol rebus dengan parutan kelapa dan gula…rasanya enakkk dan tidak bau, heran kan. Itulah secuil memori masa kecilku di Belitung.

    Dan…sekitar 10 tahun lalu akupun kembali ke Belitung untuk menghadiri pesta pernikahan sepupuku. Seperti acara pernikahan pada umumnya saja namun ada yang menarik perhatianku yaitu pernik pernikahan yang disebut kembang telur. Untaian kembang kertas dengan ranting dari lidi dan ada telur rebus di ujungnya. Berburu pernik ini mengasikkan karena bisa menikmati telur rebusnya. Sempat pula aku mengunjungi pantai Tanjung Klayang karena lokasinya dekat dengan rumah kakek. Takjub iya…karena menyegarkan mata melihat indahnya pantai dengan pasir putih dan air yang bening. Kala itu Belitung masih sepi dan asri sekali. Decak kagum akan pantai dan suasananya yang damai sesaat seperti berada di negeri dongeng.

          Seketika Belitung menjadi terkenal ketika film Laskar Pelangi yang berlokasi dan menceritakan kehidupan Belitung tempo dulu ditayangkan di bioskop . Seketika pula Belitung ramai dikunjungi dan pertumbuhan ekonomi menjadi sangat pesat karena sektor wisatanya. Begitu ramai orang membicarakan Belitung sejak saat itu membuatku ingin kembali kesana. Dan…begitu jauh berbeda Belitung kala itu dengan saat ini ketika aku mengunjunginya lagi awal July 2017 lalu. “Seperti mimpi Belitung jadi seperi ini, maju dan terkenal” begitulah kata guide kami yang asli orang Belitung. Terlihat nyata sekali pertumbuhan ekonomi yang pesat di Belitung saat ini. Terutama di sektor pariwisata dimana masyarakatnya mendapatkan kesempatan membuka dan mendapat lapangan pekerjaan baru. Para investor pun ikut mengambil kesempatan. Hotel dan restoran bertebaran bak kota Jakarta. Jalan-jalan pun sudah di aspal hingga ke pelosok. Berdirilah berbagai rumah makan yang menyajikan masakan khas Belitung. Salah satu rumah makan unik yang aku temui adalah rumah makan “Belitong Timpo Duluk”. Arsitekturnya unik seperti rumah penduduk dimana ada ruang tamu dan ruang makan didalamnya dengan dekorasi peralatan tradisional. Makanannya pun benar- benar masakan tempo dulu dan disajikan dengan peralatan makan tempo dulu. Serasa kembali ke Belitung beberapa tahun silam. 

          Entah mengapa bumbu masakan nya terasa khas dan beda. Belitung mungkin salah satu surganya makanan seafood. Laut yang bersih jauh dari kontaminasi limbah membuat makanan laut di belitung sangat fresh dan sehat. Tak heran bila makanan khas Belitung didominasi citarasa seafood. Pempek dan Tekwan pun menjadi makanan khas Belitung karena sejarah keterikatannya dengan Palembang. Di Pulau Kepayang akan kita temukan rumah makan pantai yang menyajikan aneka seafood mulai dari ikan,cumi,udang sampai kepiting. Ada beberapa makanan khas Belitung lain yang lezat seperti “Gangan” (soup ikan dengan kuah kuning asam pedas) dan “mie Belitung” dengan kuah seafood nya yang manis. Minuman khas daerah ini selain terkenal dengan kopinya juga ada jeruk kunci yang rasanya berbeda dengan jeruk pada umumnya, segar dan manis. Untuk cemilan khas nya ada “laksa Belitung” dan “kue Jungkong” yang rasanya endess. Laksa Belitung lezat karena kuah kuning dari bahan ikan sedangkan kue Jungkong seperti kue talam dengan kuah gula merah dibagian bawahnya yang bikin lumer di lidah. 

      Pariwisata baru muncul seiring meledaknya film Laskar Pelangi. Museum “kata” Andrea Hirata yang berisi aneka quotes dari berbagai sumber dan replika SD Muhammadiyah dibangun untuk mengenang film Laskar Pelangi yang telah memperkenalkan Belitung kepada dunia pariwisata. Kalau nonton filmnya ada rasa sedih melihat dunia pendidikan kala itu yang sangat minim perhatian. Oh iya mengenai bahasa Belitung sendiri huruf “u” dibaca menjadi huruf “o” loh, jadi Belitung disebut oleh penduduknya sebagai Belitong dan desa Gantung disebut sebagai desa Gantong.

       Pantai di Belitung tergolong unik karena begitu banyak bebatuan besar bertebaran entah datang darimana. Konon dahulu kala badai meteor menerjang Belitung dan icon kota Belitung sendiri adalah Batu Satam yang menurut warga setempat adalah batu meteor. 

          Selain wisata alam jangan lupa untuk mempelajari sejarah dan budaya setempat. Dikawasan rumah dinas bupati Belitung Barat sendiri telah dibangun replika rumah adat panggung untuk melestarikan kebudayaan Belitung. Didalam rumah adat ini seperti museum karena berisi pakaian adat, perlengkapan pernikahan dan peralatan tradisional Belitung. Rumah ini sendiri terdiri dari 3 ruangan dimana para tamu hanya diperbolehkan masuk sampai teras depan saja sehingga disediakan meja dan kursi di teras ini. Ruang tengah adalah untuk keluarga sedangkan bagian belakang adalah dapur bersih. Dapur kotor dan kamar mandi sendiri letaknya terpisah dibelakang rumah besar karena menurut kepercayaan masyarakat Belitung kamar mandi adalah tempat kotor dan dihuni oleh para jin sehingga harus dipisahkan dari rumah besar.  Rumah panggung ini sendiri ada 2 macam yaitu untuk rakyat biasa dan kaum bangsawan. Rumah panggung rakyat terdiri dari 3 anak tangga sedangkan rumah panggung bangsawan terdiri dari minimal 5 anak tangga tergantung kedudukannya. Semakin tinggi kedudukan sang bangsawan semakin tinggi pula anak tangganya.

          Sejarah terbentuknya provinsi Belitung sendiri yaitu dahulunya Bangka dan Belitung masuk kedalam provinsi Sumatera Selatan dengan ibukota Palembang. Bangka dan Belitung dahulunya adalah penghasil timah terbesar di Indonesia, namun hasil tambang tersebut hanya dinikmati pemerintah pusat Sumatera Selatan dan tidak ada dampak yang signifikan untuk daerah penghasilnya sendiri Bangka dan Belitung. Karena kekecewaan tersebut masyarakat Bangka dan Belitung memisahkan diri dari provinsi Sumatera Selatan dan membentuk provinsi baru Babel (Bangka Belitung) agar memiliki otonomi daerah dan bisa mengembangkan daerah mereka sendiri. 

          Namun, berselang satu minggu setelah menjelajahi kembali pulau Belitung, terdengar kabar bahwa banjir bandang telah menerjang Belitung Timur. Hujan deras telah melanda sebagian besar wilayah Belitung selama beberapa hari. Selain faktor alam, beberapa pihak beranggapan bahwa sisa tambang timah dan perusakan lahan sawit untuk pembangunan menjadi penyebab banjir ini. Semoga bencana ini cepat berlalu , tidak ada korban dan semua dapat diselamatkan. Aamiin.

43 Replies to “Negeri Laskar Pelangiku kini”

  1. Pantai di Belitong keren2.. aku suka air pantainya yang hangat. Mandi berendam di pantai tidak akan bikin kulit kedinginan. Trus, aku suka kedai kopi dekat Pelabuhan Tanjung Pandan. Behhhh nikmat kopinya luar biasaaaaa mantap! πŸ‘πŸ‘πŸ‘ Maju terus u Belitong!

      1. Banyak pulau2 kecil di sekitar Belitong yang belum di eksplore πŸ˜„ ah, krupuk dari Belitong enak ya.. 😍😍😍 ikannya berasa banget. 😍😍😍 Packing kardusnya jg bgs. (Kalau beli byk)

  2. Terimakasih utk artikel nya yg cukup detail & dr sisi yg lebih personal, menurut sy. Benar2 jd ingin ksana. Foto2nya juga banyak jd makin kebayang istimewanya.
    Saya baru tau batu gede itu konon batu meteor. XD

  3. Setelah laskar pelangi keluar, penasaran sama Belitung dan saat keponakan saya tugas di Belitung saya makin dibuat pengen kesana, rencananya habis Idhul adha bisa kesana, makasih sudah ngasih gambaran detail tentang negeri ini, jadi …..

Leave a Reply to lalaysf Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *