Kamu, Duniaku

“Go travels and find experience that money can’t buy”

Prolog

Tidak ada yang lebih sial dari hari Senin pagi yang banjir karena hujan deras yang mengguyur kota Jakarta sejak tadi malam. Belum lagi desakan calon penumpang commuter line di Stasiun Manggarai seperti berebut sembako ketika kereta jurusan Bogor datang. Kaki pun jadi korban injakan dan badan seakan menyusut diapit buldoser, itupun masih untung bisa selamat masuk kedalam kereta. Perjalanan yang sebentar sebenarnya menuju Stasiun Tebet, namun perjuangannya sungguh dahsyat.

Lega rasanya bagi Danu ketika menginjakkan kaki di Stasiun Tebet. Diseberang sana angkot sudah menunggu. Dengan sedikit menerobos hujan akhirnya Danu bisa duduk nyaman juga didalam angkot. Daripada melamun di angkot menatapi hujan, Danu mengeluarkan hp dari dalam tasnya. Iseng-iseng dia membuka galery foto. Ada foto yang menyolok dalam galerynya. Ternyata foto Vanya ketika trip Pulau Tidung 3 bulan lalu. Difoto itu wajah Vanya terlihat cantik dengan dress pink dan panorama pantai sebagai background-nya. Sejenak Danu khilaf dengan kesialan hari itu. Sambil memandangi foto Vanya, Danu bergumam dalam hati : “ahh, wajahmu mengalihkan duniaku”

One Un-fine Day

Luna : “Damn ! banyak banget email yang belum gue bales…aarrggh”

Hari itu hectic sekali dan membuat Luna tak hentinya bergumam dalam hati:

butuh liburan !”

Mejanya berantakan penuh kertas. AC kantor seakan tak berfungsi terlihat dari dress merah pendek bermotif batik yang dikenakannya basah dengan keringat. Sejak siang ia mondar mandir didepan meja kerjanya. Rambut pendeknya pun terlihat tak beraturan.

Jam menunjukkan pukul 8 malam dan Luna masih berusaha membalas email-nya satu persatu. Ruangan pun sudah mulai sepi. Yang tersisa hanya Bunga dan 2 orang team-nya di pojok ruangan dekat jendela.

Luna: “Nga…kamu pulang jam berapa?”

Bunga: “Gak tau nih mba…bentar lagi kali udah mumet juga ini”

Luna: “Setengah jam lagi yuk turun kebawah, bareng”

Bunga: “Siip…ok mba”

Diperjalanan menuju kost, Luna melihat suasana jalan sudah mulai sepi. Ia pun berhenti di warung makan Soto Lamongan kesukaannya untuk isi perut. Sampai di kost, Luna membuka hp yang sejak siang tadi tak sempat ia buka. Terlihat beberapa chat WA masuk dan ia membuka chat dari Yuke, teman satu kantornya dulu yang kini sudah pindah ke tempat lain.

Yuke: “Lun, lo mau ikut gue gak ke Sumbawa, libur Idul Adha nanti”

Terlihat waktu menunjukkan pukul 13.17 di chat WA dari Yuke. Seperti disiram air tengah hari bolong, tiba-tiba senyum sumringah terlukis di wajah Luna.

Luna: “Ok gue ikutan. Pas banget nih gue lagi butuh liburan. Thanks God ada lo ya Ke” (jawab Luna dalam chat WA)

Setelah deal dengan Yuke, lega rasanya perasaan Luna. Ia pun dapat tertidur lelap malam itu tanpa memikirkan ratusan email-nya yang belum terjawab.

Semangat Liburan

“KRIIINGGG”

Bunyi alarm jam 05.00 subuh seperti biasa membangunkan Luna dari tidurnya. Jam 08.00 ia keluar kost menuju kantor yang berjarak 30 menit dengan berjalan kaki.

Luna: ” Aarrghh….perjuangan dimulai. Semangat!!”

Kalimat pertama Luna yang keluar ketika menginjakkan kaki di lantai 27 kantor tempatnya bekerja. Sebelum menyalakan komputer ia teringat akan chat WA tadi malam. Ia pun menghampiri soulmate trip-nya Danu yang duduk di dekat pantry. Dengan gerak tubuh merayu akhirnya Danu ikut ajakan Luna.

Danu: “Siapa aja yang ikut?”

Luna: “Yahh…masih orang-orang yang sama waktu ke Pulau Tidung kemarin. Paling ada tambahan beberapa orang”

Danu: “Ohh …kalo gitu Vanya ikut dong. Gue ikut deh. Lu jangan cemburu ya”

Luna: “Wakakakakak”

Setelah kembali duduk, Luna berteriak kecil kearah Bunga yang duduk tak jauh dari tempatnya.

Luna: “Nga, mau ikut gak bareng aku ke Lombok dan Sumbawa, lebaran haji nanti. Mumpung murah loh”

Bunga: “Wahhh boleh tuh. Gue ikut deh mba, siiip. Daripada mumet ma kerjaan nih”

Tak sengaja pembicaraan itu terdengar Chery yang duduk di team sebelah dekat Luna.

Chery: “Mba…lu mau ke Sumbawa? Berapa cost nya”

Luna: “Sekitar sejuta dek, mau ikut?”

Chery: “Wahh murah tuh, gw mau ahh ikut. Daftar ya”

Luna: “Ok. Tapi kamu jangan cancel ya

Terlihat nada penegasan Luna kepada Chery karena trauma pengalaman cancel dadakan Chery ketika trip Pulau Tidung 3 bulan lalu.

 

~2 BULAN KEMUDIAN~

Meeting Point

Bunga: “Mba, lu udah sampe mana?”

Suara Bunga terdengar dari line telepon genggam Chery.

Chery: “Udah masuk kawasan bandara kok. Bentar lagi sampe”

Chery memilih naik bus Damri dari rumahnya menuju bandara. Ketika memasuki gerbang check-in tiba-tiba terdengar suara Bunga yang memanggilnya dari jauh. Bunga, Luna dan Danu yang tiba lebih dulu naik taksi dari kantor menghampiri. Chery berangkat sendiri karena sudah sebulan lalu resign dari kantor tersebut.

Mereka berempat bersama-sama memasuki bandara dan bertemu rombongan lain didalam. Yuke dan suaminya Ryan, Vanya, Lika dan suaminya om Bony, Ficka, Nick, Sarah dan Amel sudah duduk di ruang tunggu dengan menyantap paket nasi box merek franchise terkemuka.

Pesawat berangkat jam 08.30 menuju bandara Praya Lombok.

Cherry: “Finally, I’m here…. in Lombok

Sambil memutar video live IG, Chery tak sabar mengungkapkan rasa bahagianya. Destinasi impian yang tak disangkanya akan terwujud hari itu.

Di bandara mereka bertemu lagi dengan Frans dan Beth yang menyusul dengan pesawat lain. Setelah terkumpul 15 orang dengan dresscode pink ini, mereka dijemput mobil elf menuju pelabuhan Kayangan yang berjarak 45 menit dari Bandara Praya. Suasana pelabuhan di malam hari terlihat sepi, hanya ada beberapa warung kecil yang menjajakan makanan ringan. Di pelabuhan mereka menaiki Kapal Ferry Mutiara Pertiwi yang siap 24 jam membawa penumpang menuju Pulau Sumbawa. Didalam kapal terdapat beberapa tempat tidur kayu bertingkat yang bisa dimanfaatkan penumpang selama perjalanan yang menyita waktu sekitar 2 jam itu.

The Journey Begin

Sesampainya di Pulau Sumbawa mereka kembali menaiki elf menuju masjid terdekat yaitu masjid Al-Falah untuk menunaikan shalat subuh kemudian menunggu waktu Shalat Ied. Kostum pun berganti putih.

Bunga: “Mba, aku gak ganti kostum ah, males. Lagian gak ikut shalat ini, lagi dapet. Kayaknya gue juga gak snorkeling deh, percuma nih, hari pertama lagi banyak-banyaknya”

Cherry: “Iya sama gue juga lagi gak shalat. Kita nunggu di elf aja deh sampe mereka selesai shalat Ied. Kalo gue udah hari keempat sih, tinggal dikit. Bodo deh gue ikut snorkeling aja, haahaa “

Selesai shalat Ied mereka berkumpul sejenak untuk berfoto di depan masjid kemudian melanjutkan perjalanan menuju Dermaga Poto Tano untuk menyeberang ke Pulau Moyo. Perjalanan menuju Pulau Moyo memakan waktu sekitar 2,5 jam. Ombak laut di siang hari cukup besar sehingga kapal sedikit terombang ambing.

Ryan: “Welcome to Pulau Moyo, kita sudah sampai…yiihaaa”

Vanya: “Yess, selamat datang….waw keren pulaunya masih bersih”

Cherry: “Akhirnya sampe juga…gue mau cepet-cepet sampe homestay nih, gak tahan pengen mandi”

Ryan mengeluarkan kameranya merekam moment tersebut. Homestay bercat putih dengan 4 ruang kamar besar tepat berada didepan pantai menyambut mereka. Halamannya luas dan cukup hijau dengan rerumputan. Para lelaki menempati satu kamar. Chery, Luna dan Bunga juga menempati satu kamar yang sama. Sementara Lika, Yuke, Ficka dan Vanya yang satu team kerja di kantor menempati satu kamar yang sama pula. Satu kamar lagi ditempati Sarah, Amel dan Beth. Selesai mandi dan ganti kostum hitam dresscode hari itu, mereka berkumpul di teras yang mirip cafe dengan meja makan panjang dan kursi yang terbuat dari kayu. Sebagian lagi menikmati pantai didepan penginapan sambil bersantai di kursi panjang tempat berjemur ala bule.

Ryan: “Liat tuh pulau kecil disana. Itu namanya pulau Kenawa. Keliatan deket ya. Nanti kita kesana kok” (sambil menunjuk pulau diseberang sana)

Lika: “Papah, fotoin aku dong disini” (sahutnya kepada Om Bony sambil bergaya di pinggir pantai)

Om Bony yang bertubuh sintal dan berkacamata terlihat lucu walaupun gayanya tenang dan kebapakan. Tanpa banyak bersuara Om Bony asik dengan kameranya mengambil foto-foto pantai mereka. Lika menjadi model foto yang menarik dengan rambut panjang dan tubuhnya yang proporsional.

Siang itu sebelum eksplore pulau mereka makan siang di teras. Ada menu yang tak lazim dalam santap siang hari itu….ternyata daging kijang! Tekstur dagingnya sedikit kenyal, apalagi dipotong kecil-kecil dan dimasak dengan bumbu, sekilas rasanya seperti daging bekicot.

Setelah kenyang santap siang, para lelaki siap-siap Shalat Jum’at karena memang mereka tiba pada hari Jum’at. Sekitar pukul 1 siang, barulah mereka bersiap-siap untuk eksplore pulau sekitar.

Ryan: “Yuk siap-siap naik kapal lagi. Kita menuju spot diving dan snorkeling dulu. Sebelum jalan kita berdoa dulu ya. Ayo rapatkan barisan, kita kumpul”

Ryan yang tubuhnya berotot tampil nyentrik dengan kacamata hitam dan celana pendek. Dia mengkoordinasikan teman-temannya untuk berkumpul membentuk lingkaran, berdoa dan….sambil hom pim pah dan melambaikan tangan keatas, ramai-ramai mereka berteriak :

Wooohoo

Setelah semua naik ke kapal, dalam waktu tempuh sekitar 30 menit mereka sampai di spot diving. Ryan, Yuke, Om Bony, Frans, Vanya dan Ficka mendengarkan instruksi guide sebelum diving. Diving dibagi 2 grup, laki-laki dan perempuan. Sekitar 2 jam mereka manghabiskan waktu dikedalaman dengan tabung gas. Ryan dan Om Bony terlihat mahir sedangkan Frans sedikit perlu belajar lagi. Di grup kedua Vanya terlihat gagal karena ada masalah dengan alatnya dan kembali ke atas kapal.

Vanya: “Aneh ya, kok badan gue ngambang terus gak bisa turun kebawah, hahaha”

Sarah: “Iya, elo emang aneh Van…haha. Trus kita gimana nih, nunggu di kapal sampe kalian selesai diving?”

Peserta lain kemudian dibawa pengemudi kapal untuk bersnorkeling di pulau pasir timbul Takat Sagele yang tak jauh dari spot diving. Berenang dari pinggir pantai menuju ketengah mereka sudah bisa melihat trumbu karang dan ikan dengan alat snorkeling.

Beth: “Ikannya bagus-bagus loh di tengah situ”

Selesai eksplore bawah laut, mereka kembali ke penginapan dan malamnya berkumpul di teras untuk santap malam kemudian istirahat.

It’s Holiday !!

Beberapa dari peserta bangun lebih pagi untuk menikmati pantai Pulau Moyo. Ketika waktu menunjukkan pukul 9 pagi, mereka bersiap-siap menuju pangkalan ojeg yang tak jauh dari penginapan untuk eksplore air terjun Matajitu yang terkenal itu. Lokasi air terjun Matajitu terletak 2km dari penginapan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi mereka memilih merogoh kocek 100rb rupiah untuk sewa ojeg pulang pergi.

Keseruan touring motor pun dimulai dengan melewati jalan setapak yang sudah disemen. Kanan kiri jalan terlihat rumput ilalang dan pohon-pohon besar yang agak kering karena musim kemarau. Chery yang sedikit pendiam terlihat asik mengambil video sambil mengobrol dengan tukang ojeg yang ditumpanginya.

Chery: “Bang pelan-pelan ya…keliatan jalannya kecil dan nanjak, takut jatoh”

Tukang ojeg: “Iya neng. Oh iya, tempat ini udah terkenal loh. Dulu Lady Diana kan pernah kesini. Trus artis Indonesia Nikita Willy gak lama juga pernah kesini”

Chery: “Oh bagus banget dong air terjunnya. Lady Diana aja sampe kesini. Gimana dia bisa tau ya tempat ini, haha. Tapi kok keliatan sepi, jarang yang kesini ya bang”

Tukang ojeg: “Iya emang jarang dan gak rame disini. Kebanyakan turisnya pergi ke Lombok karena udah terkenal”

Sekitar 15 menit kemudian mereka tiba di pintu masuk berpalang “Matajitu Waterfall”. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 100 meter menuju air terjun.

Air Terjun Matajitu tampak dari jauh

Bunga: “Wah gue gak mau basah-basahan ah. Fotoin aja disana Bang, tolong” (sambil memberikan kameranya kepada guide)

Luna: “Wah gue mo berenang kesana ah pas di air terjunnya”

Cherry: “Duh pengen turun tapi gak bisa renang. Bang tolong fotoin dong”. (sambil memberikan kamera ke guide)

Yuke: “Mba fotoin aku disitu dong nanti, aku mau berenang kesitu dulu” (sambil memberikan kamera ke Chery)

Tepat dibawah Air Terjun Matajitu

Semua sibuk foto-foto dan berenang di kolam alami yang mirip jacuzy pribadi. Air terjun Matajitu dengan ketinggian sekitar 10 meter terlihat sangat indah dengan airnya yang jernih yang mengalir melewati kolam alami yang berundak-undak bak pemandian para bidadari. Mereka pun menyusuri aliran air hingga ke kolam besar yang dalam diujung sana.

Kolam Air Terjun Matajitu yang berundak-undak

Danu: “Vanya, kamu jangan jauh-jauh, sini ntar hanyut loh” (sambil memegang tangan Vanya dan melirik genit)

Vanya: “Ihh apa sih, genit banget om Danu.”

Yuke: “Cieee dipepet terus lo sama om Danu. Udah… jadiin aja. Wakakakak”

Vanya: “Ihh amit-amit deh. Mending gue ilang ditelan bumi daripada harus jadian sama dia” (sambil buang muka dan tersenyum sinis)

Tiba-tiba langit berubah mendung. Dari kejauhan diam-diam Luna memperhatikan tingkah genit Danu kepada Vanya. Danu yang bertubuh subur terlihat tak melepaskan pandangannya dari Vanya yang terlihat cantik dengan rambut panjang tergerai dan tubuh putih langsing berbalut kaos hitam. Terlihat seksi dimata pria manapun.

Puas main air dan foto-foto di air terjun Matajitu, mereka kembali ke pangkalan ojeg untuk kembali ke penginapan.

Yuke: “Yuk siap-siap, kita lanjut lagi naik perahu”

Setelah semua naik ke perahu, mereka menuju Pulau Kenawa dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.

Lika: “Wow…..keren nih pulau ada padang rumput ilalangnya, baguss….foto-foto dulu yuk”

Ficka: “Liat tuh disana ada bukit. Pasti lebih keren pemandangannya dari sana”

Padang Savana Pulau Kenawa

Mereka beramai-ramai jalan beriringin menuju bukit sambil diselingi foto-foto. Pulau Kenawa dengan luas sekitar 15 hektar terlihat eksotis dengan padang savana ilalangnya dan bukit yang dari kejauhan tampang kuning keemasan, ciri khas Indonesia Timur. Dalam perjalanan menuju puncak, tiba-tiba ditengah perjalanan Luna berbalik arah.

Bukit Pulau Kenawa

Luna: “Ahh gue gak mau naik keatas ah, mana kuat gue. Balik aja deh, gue tunggu dibawah sana ya” (sambil menunjuk warung dekat kapal bersandar)

Ternyata dari kejauhan Luna melihat Danu berjalan berdampingan dengan Vanya menuju bukit. Luna tiba-tiba kehilangan selera melanjutkan langkahnya dan berbalik arah dengan hati panas.

Amel: “Iya gue juga gak ikut ah, gak kuat naik kesana. Gue ikut balik bareng dong mba Luna”

Sarah: “Yah…sama nih. Liatnya aja udah males naik ke bukit itu. Gue ikut balik deh nemenin kalian, hehe”

Akhirnya 3 orang gugur dan balik arah. Amel yang bertubuh tambun, Sarah yang agak berisi dan Luna yang sudah bad mood melihat kedekatan Danu dan Vanya.

Bunga: “Yahh….sayang banget sih. Tapi gue juga gak sampe puncak kayaknya haha, nanjak banget itu, gue sampe disana aja deh” (sambil menunjuk dataran sebelum puncak)

Chery: “Gila, itu tanjakan menuju puncaknya curam banget. Gak bakal bisa gue kesana, paling merosot. Gue juga sampe dataran itu aja deh bareng lo Nga”

Ketika sampai di dataran, Bunga dan Chery istirahat sejenak sambil beraksi mengeluarkan peralatan foto.

Bunga: “Pemandangan disini aja udah bagus kok, mending foto-foto disini aja”

Cherry: “Iya gue juga mo bikin video dulu disini”

Bunga: “Ya udah sono. Eh coba deh lo duduk disitu mba, view nya bagus nih buat ambil foto”

Menuju Puncak Kenawa

Setengah jam puas foto-foto, rombongan lain turun dari puncak bukit

Yuke: “Wihh…keren loh pemandangan diatas sana, bagus banget, keliatan semuanya… laut, pulau”

Danu: “Kenapa gak ikut sampe atas? sayang banget”

Nick: “Ni daritadi disini muter-muter bikin video doang?” (menatapi Chery dengan wajah heran)

Ryan: “Eh kita bikin foto bareng trus video drone dulu ya disini.”

Padang Savana Pulau Kenawa

Setelah menuruni bukit mereka berkumpul membentuk formasi lingkaran dan Ryan mulai memainkan drone nya. Tapi Bunga tidak terlihat, ternyata Bunga, Danu dan Beth sudah balik menuju perahu bersandar. Setengah jam cukup puas berfoto drone, mereka semua kembali ke perahu. Di perahu Luna terlihat ngedumel dengan wajah kesal.

Padang savana dalam pantauan drone

Luna: “Udah jam segini mana sempat lagi kita snorkeling, udah kesorean tau” (muka bete)

Sepanjang perjalanan di perahu, Luna tak hentinya ngedumel hingga membuat kuping Beth panas.

Beth: “Lo sensi banget ya mba, pusing gue denger ocehan lo lama-lama, hihi” (tepok jidat)

Menaiki perahu sekitar 30 menit mereka sampai di Pulau Kalong. Suasana terlihat sedikit gelap karena sudah sore dan mendung membuat cahaya sunset tidak terlihat jelas. Luna sudah tidak mood untuk snorkeling. Bunga menemani Luna di kapal. Begitu pula dengan Sarah dan Amel yang tidak bisa berenang memilih tinggal di kapal. Lainnya turun ke laut menikmati waktu snorkeling yang singkat.

Nick: “Bagus loh di tengah sana ikannya warna biru” (sahutnya kepada Chery)

Chery: “Duuh…gue gak kebagian snorkle nya… jadi di pinggir aja deh.”

Sambil menikmati sunset di pinggir pantai, Chery dan Ryan membuat tulisan di pantai. Kemudian bersama Bunga mereka saling berfoto dengan panorama pantai dan bukit.

Sunset di Pulau Kalong

Suasana hening mewarnai perjalanan pulang menuju penginapan. Sebagian memang lelah dan sedikit bad mood dengan keluhan Luna sepanjang hari ini yang merusak keceriaan.

Sesampainya di penginapan mereka bersih-bersih dan berganti kostum. Tak sabar mereka pun segera berkumpul dipinggir pantai untuk mengejar sunset. Sunset Pulau Moyo mungkin salah satu sunset terindah dengan gradasi warna jingga keemasan berbalut birunya laut yang begitu memukau dan menakjubkan.

Ryan: “Kita bikin foto bareng yuk disini abis itu video drone”

Segala gaya dan angle pun dicari untuk mendapatkan gambar terbaik dengan panorama sunset. Bunga dan Chery asik saling berfoto mengabadikan cahaya sunset yang mempesona. Semua terpukau dan larut dalam keakraban sore itu kecuali Luna yang tidak tampak. Dia memilih menyendiri dalam kamar.

Bunga: “Mba bikin foto gaya ini lucu deh”(menjulurkan kemudian memegang tangan Chery)

Sunset di Pulau Moyo

Chery: “Iya gantian ya abis itu foto di ayunan. Wow the best sunset I ever seen” (melongo takjub)

Beth: “Eh gue ikutan dong foto di ayunan itu juga, keren banget langitnya”

Disamping kanan Homestay mereka terdapat Bungalow kecil yang dimiliki seorang bule. Tepat didepan Bungalow terdapat ayunan yang romantis untuk berfoto dikala senja.

Ayunan Pulau Moyo

Adzan maghrib pun berkumandang namun Chery seolah tak mau meninggalkan sunset sore itu. Ia malah asik bermain dengan ayunan sambil menikmati gradasi warna senja yang menakjubkan. Bunga memanggilnya untuk segera kembali ke penginapan. Senja berganti malam dan mereka berkumpul kembali di teras untuk makan malam. Seusai makan malam tiba-tiba terdengar erangan kesakitan dari Vanya.

Vanya: “Duuuh…kok tiba-tiba kepala gue berat gini ya, kok semua keliatan muter-muter di kepala gue, sakit banget nih, tolong dong” (sambil memeras rambut dikepalanya)

Tiba-tiba Vanya pingsan dan semua kaget. Yuke langsung menghampiri dan mengguncang tubuh Vanya untuk membangunkannya. Vanya tersadar dengan wajah yang masih menahan sakit. Danu dengan cekatan mengangkat tubuh Vanya dan membawanya ke kamar.

Danu: “Vanya…..kamu kenapa? Ya ampuun badan Vanya kenapa panas gini sih” (muka panik)

Ficka segera mengambil kompresan air dingin dan meletakkannya diatas kepala Vanya.

Amel: “Untung gue bawa obat demam. Vanya…kamu minum obat ini ya”

Ryan: “Ya udah biar Vanya istirahat dulu. Semoga besok pagi udah baikan. Kalian semua istirahat aja di kamar”.

Di kamar sebelum tidur terjadi percakapan singkat :

Luna: “Dek, kamu liat kan tadi Danu perhatian banget sama Vanya”

Chery: (tersenyum bingung)

Kehilangan

Pagi buta Chery dan Luna terbangun oleh suara berisik Bunga yang sedang packing. Bunga, walaupun bertubuh mungil, namun suaranya yang nyaring mampu mengagetkan orang disekitarnya.

Bunga: “Mba…bangun, udah subuh tau!”

Chery: (sambil ngolet bergumam dalam hati “apa sih nih Bunga jam segini udah bangunin aja, alarm aja belum bunyi”)

Sudah terlanjur tersadar karena suara berisik Bunga, Chery akhirnya bangun dengan rasa malas sambil liat jam di hp. Tiba-tiba dia tersentak sadar bahwa alarm yang dipasangnya WIB, artinya telat satu jam. Dengan rasa malu Chery mengakui kekeliruannya. Luna pun terbangun mendengarnya sambil tertawa.

Bunga: “Packing woyy, mau balik gak”

Kegiatan pagi itu pun akhirnya disibukkan dengan beres-beres dan packing untuk pulang.

Tiba-tiba di kamar sebelah terdengar kegaduhan.

Ficka: “Vanya…Vanya…” (sambil berlari keluar kamar)

Semua orang seketika kaget dan keluar kamar dengan wajah bingung.

Lika: “Lun, lo liat Vanya gak (muka panik)

Luna: “Lohh…kalian kan sekamar, kalian lah yang lebih tau”

Yuke: “Semalem dia tidur di pojok samping gue, trus pagi ini dia gak ada”

Satu persatu dari mereka pun menghampiri kamar Vanya dengan wajah penuh tanda tanya.

Danu: “Kok kalian gak ada yang tau sih sekamar. Semalam hujan deres loh. Pas gue bangun tadi subuh baru reda hujannya. Gak mungkin kan dia keluar”

Nick: “Gue tengah malem kebangun denger suara long-longan anjing. Merinding…kalian denger gak?”

Ryan: “Ah gue tidur pules jadi gak denger. Udaranya adem karena ujan kali bikin gue tidur nyenyak banget”

Cherry: “Trus gimana ini?” (duduk lemas dengan muka sedih)

Semua orang saling berteriak keluar memanggil nama Vanya. Ryan mencari kearah air terjun. Frans mencari kearah sebaliknya. 3 jam pencarian menyusuri pulau pun berlalu dan mereka mulai kelelahan. Vanya seperti hilang ditelan bumi, persis seperti yang dia katakan sewaktu di air terjun Matajitu.

Danu: “Aku tau kamu cemburu. Kamu habis ribut ya sama Vanya. Dia jadi kabur gitu” (berteriak kearah Luna)

Luna: “Ke..ke..kenapa kamu nyalahin aku sih” (tertunduk sedih sambil menangis)

Danu: “Alaahh gak usah pura-pura. Gue jadi benci sama lo” (melotot sambil menunjuk muka Luna)

Luna berlari masuk ke kamar sambil menangis.

Om Bony: “Udah-udah…sekarang kita cari solusinya, bukan marah-marah”

Om Bony memencet nomor telepon dari hp nya kemudian terdengar ia berbicara dengan polisi. Secara detail Om Bony menceritakan kejadiannya.

Terdenga samar suara dari hp Om Bony :

Baik Pak kami segera kesana dan akan segera melakukan pencarian”

Satu jam berlalu 3 orang polisi datang dengan speed boad bersama 1 anjing pelacak. Pencarian dilanjutkan oleh polisi selama 4 jam bersama warga sekitar. Waktu menunjukkan pukul 5 sore tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Vanya. Semua tertunduk lemas. Danu terlihat menangis tersedu-sedu di depan kamar Vanya sambil menutupi wajahnya.

Polisi: “Hari ini kita tidak menemukan Vanya. Kita lanjutkan lagi besok. Kalian istirahat saja dulu”

Pupus

Matahari menampakkan diri pagi itu dengan sinarnya yang kuning terang. Tampak seseorang bertubuh besar melamun didepan salah satu kamar. Ternyata Danu tidak tidur semalaman dan masih duduk disana, di depan kamar Vanya. Di teras terlihat dua pria baru tersadar dari tidurnya. Rupanya Nick dan Frans memilih berjaga di teras.

Tiga orang polisi dan satu anjing pelacak kembali datang. Tiba-tiba seorang nelayan kurus nan jangkung berlari kecil menghampiri Frans.

Nelayan: “Maaf mas, saya menemukan kaos putih yang robek ini di tengah laut tadi pagi waktu saya mencari ikan. Seperti baju perempuan. Apa mas kenal baju ini?”

Frans dan Nick yang sedang berusaha mengumpulkan nyawanya seketika tersentak kaget sambil melongo. Kaos putih dengan gambar mickey mouse itu persis sama dengan yang dipakai Vanya tadi malam.

Tak lama Danu menghampiri kemudian menarik nafas panjang sambil munundukkan kepala. Ketiga polisi pun ikut tertunduk sedih.

Polisi: “Sabar ya mas” (sambil menepuk-nepuk pundak Danu)

Melihat kerumunan ramai di teras depan satu persatu mereka keluar dari kamar dan menghampiri. Polisi pun menceritakan kejadiannya dan semua ikut kaget.

Amel: “Vanyaaa…….” (sambil menangis)

Sarah: “Innalillahi wa innailaihi rojiun” (sambil menutup muka)

Yuke terduduk diam seolah tak percaya.

Lika: “Kita ikhlasin Vanya ya Ke” (sambil memeluk Yuke)

Beberapa jam suasana duka masih mewarnai Homestay. Bunga dan Chery saling berpelukan dan menangis. Luna terlihat diam dengan wajah pucat.

Ryan: “Teman-teman, sekarang kita berkumpul untuk mendoakan Vanya. Semoga dia mendapatkan tempat yang terbaik disisiNya. Aamiin”

Suasana hening beberapa menit ketika mereka memanjatkan doa.

Polisi: “Baiklah, kalian sebaiknya segera pulang dan mengabarkan berita duka ini kepada keluarga Vanya.

Jam 3 sore mereka bersiap-siap kembali untuk pulang walaupun wajah masih sembab.

Danu: “Sorry, gue gak bisa pulang bareng kalian. Gue akan nunggu disini sampai Vanya ketemu. Gue akan cari sendiri sampe ketemu”

Beth: “Mas Danu yang sabar ya. Kita ikhlasin dan doakan yang terbaik buat Vanya”

Om Bony: “Iya Dan, kita semua sedih tapi harus kuat dan ikhlas”

Danu: “Kalo kalian mau pulang silahkan. Gue akan nunggu disini dan cari Vanya sampe ketemu”

Beberapa saat semua terdiam dan saling menatap satu sama lain.

Ryan: “Ok. Kalo gitu kita balik duluan. Mas Danu hati-hati ya disini. Tetap berkabar ya mas. Kita semua akan mendoakan yang terbaik”

Luna pun terlihat pasrah dengan keadaan. Dia sedih telah kehilangan Vanya, namun kecewa dengan sikap Danu yang tak sengaja telah mengiris hatinya.

.
~1 TAHUN KEMUDIAN~

Kembali ?

Ficka: “Gak kerasa ya udah setahun kita kehilangan Vanya”

Lika: “iya gak kerasa. Masih gak percaya Vanya udah gak ada. Misterius banget kejadian tahun lalu disana. Btw gimana kabar Danu ya. Sampai sekarang dia gak ada kabar loh”

Di Pulau Moyo tepatnya disebelah kiri Homestay terlihat sebuah Bungalow baru dengan ukuran kecil. Seorang pria bertubuh besar terlihat sedang mengecat jendelanya. Di depan Bungalow terpampang papan nama bertuliskan “Vanya”. Ternyata Danu memilih menetap tinggal sendiri disana sambil berharap Vanya kembali dengan selamat.

Sementara disebuah gedung kantor di kawasan Jakarta Selatan tempat Luna, Danu, Bunga dan Chery bekerja riuh dengan gosip yang beredar selama setahun ini seputar Danu yang tak kunjung kembali ke kantor.

Pak Albert: “Lun, gimana sih lu berangkat bareng Danu masa pulangnya ditinggalin. Jadinya kan gue harus ngajarin anak baru lagi yang gantiin dia”

Luna: “Yah gak tau Pak dia betah kali disana. Tapi kita senasib kok, asisten gue juga udah resign karena mo nikah katanya. Jadi gue harus ngajarin anak baru lagi deh”

Tak lama Karina staff HRD datang ke meja Luna bersama seorang wanita cantik berambut panjang dengan tubuh langsing dan berkulit putih mengenakan pakaian yang rapi.

Karina: “Lun, ini anak baru pengganti asisten lo, kenalin namanya Vanya”

Luna menatap kaget sosok didepannya yang mirip sekali dengan Vanya yang hilang. Seketika itu Luna pingsan.

 

~ THE END ~

Note: nama dan cerita dalam tulisan ini adalah fiktif belaka, kecuali lokasi yang merupakan perjalanan travelling pribadi penulis

2 Replies to “Kamu, Duniaku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *