Menulis dan Menerbitkan Buku? Cari Tahu Bersama Penulis Nunik Utami 

          “Menulislah agar dunia mengenalmu”  

Diskusi dengan Mba Nunik Utami (tengah) didampingi ketua Klub Kubbu Mas Achi (kiri) dan Bang Eka (kanan)


          Acara yang digelar salah satu klub Backpacker Jakarta (BPJ) yang bergerak dalam bidang literasi, yaitu Klub Kubbu (Blogger & Buku) pada Sabtu 14 Oktober 2017 lalu ini dihadiri sekitar 60 peserta dari komunitas BPJ dan Klub Kubbu. Tema yang diangkat oleh ketua klub Mas Achi dan Bang Eka yaitu “Menulis dan Menerbitkan Buku” bersama narasumber Penulis keren Mba Nunik Utami. Acara ini bertempat di ruang Auditorium lantai 4 gedung Perpusnas RI yang baru di Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Tentang Penulis

Mba Nunik Utami telah menerbitkan hampir 50 buku sejak tahun 2006 samapi sekarang. Kepribadian Mba Nunik sendiri memang senang membaca buku sejak kecil dimana dia menceritakan pengalamannya ketika kecil yang berjalan kaki menuju perpustakaan untuk membaca buku. Keren ya, dimana anak-anak lain sedang bermain petak umpet, Mba Nunik memilih membaca buku di perpustakaan. Mba Nunik sejak kecil telah berprestasi dengan memenangkan beberapa lomba menulis diantaranya :

– Penulis synopsis terbaik Sanggar Ananda, 1995

– Juara II lomba menulis cerita anak kategori cerita realita (blogfam, Maret 2006)

Buku terakhir karya Mba Nunik ini berjudul “Arc de Triomphe”. Selain jago nulis, Mba Nunik juga pemain teater loh ketika kecil dan pernah ikut bermain dalam Lenong Bocah.

Bersama Mba Nunik yang berbaju dan berkerudung hijau

Penulisan

Mba Nunik ikut bergabung dengan Klub Kubbu BPJ dan berbagi pengalamannya dengan para blogger dan peminat literasi dalam group ini. Menurut beliau untuk memulai menulis kita hanya perlu kemauan untuk memulainya. “Langsung nulis aja” katanya. Mba Nunik mendapatkan Inspirasi dari buku-buku referensi atau memperhatikan keadaan dan kisah orang-orang disekitar. Ia menekankan bahwa hal yang paling penting tentang suatu cerita yaitu feel yang didapat dari penggambaran suatu tempat, terutama untuk cerita fiksi. Sedangkan bila membuat tulisan dari gabungan beberapa penulis perlu disamakan terlebih dahulu persepsi tentang bahasa atau gaya tulisannya. Gunakan gaya bahasa populer agar bisa diterima semua kalangan. Untuk menulis tentang suatu tempat kitapun tidak perlu survey ke tempat tersebut, tetapi cukup menggali informasi dari internet mengenai budaya, makanan, cuaca atau lokasi tempat tersebut. Bila kehabisan ide untuk melanjutkan tulisan, ia menyarankan untuk meninggalkan sejenak tulisan tersebut kemudian refreshing atau jalan-jalan untuk mendapatkan inspirasi baru. Setelah pikiran fresh kita dapat melanjutkan kembali tulisan tersebut dengan ide baru.

Penerbitan

Untuk portofolio, menurutnya rajin-rajinlah mengikuti perlombaan yang diadakan penerbit dan cari tahu artikel apa yang sedang dibutuhkan. Untuk menerbitkan Antalogi atau kumpulan-kumpulan cerita blog ia menyarankan memakai penerbit indi karena sudah mempunyai komunitas pembaca tersendiri, berbeda dengan penerbit mayor yang agak sulit menembusnya karena mempertimbangkan pasar. Tips dari Mba Nunik, kesempatan akan lebih terbuka lebar bila artikel dikirim ke penerbit yang antimainstream, misalnya artikel travelling untuk majalah ekonomi. Karena pada umumnya setiap media mempunyai berbagai macam rubrik untuk berbagai bidang.

Peserta diskusi dari Klub Kubbu dan BPJ

Setelah acara sharing session selesai, para peserta diskusi melanjutkan mengeksplore gedung Perpusnas RI yang baru ini, karena selain tempatnya megah dan modern, tempat ini juga menyuguhkan suasana nyaman dan asri dengan lingkungan hijaunya sehingga menambah betah untuk berlama-lama disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *