Tawar Menawar Harga Diri Sebelum Ijab Kabul

          Menyusuri pasar tradisional di pagi hari tak lepas dari pemandangan riuhnya kegiatan perdagangan yang diawali dengan tawar menawar harga hingga beberapa kali sampai terjadi kesepakatan harga yang diakhiri dengan transaksi dan serah terima. Harga barangpun bisa dipengaruhi berbagai faktor misal kualitas, umur barang, biaya pengiriman, biaya sewa kios dan lain sebagainya. 

          Selayaknya transaksi jual beli di pasar, menyatukan sepasang kekasih mungkin bisa pula diperlakukan seperti itu. Bak barang dagangan, tiap orang pun punya harga. Harga seseorang mungkin bisa dinilai dari apa yang dimiliki, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, simpanan di bank, jabatan, tempat tinggal, perusahaan, kendaraan. Sebagian orang pun memberikan harga kepada seseorang berdasarkan umur atau track record kehidupan percintaan. Disini akan timbul pertanyaan, apa yang aku punya sebanding tidak dengan apa yang akan kamu beri”. Setelah masing-masing pihak merasa sudah sebanding, maka kesepakatan “harga” pun terjadi dan bisa berlanjut proses ijab kabul.

         Namun melewati proses tawar menawar harga diri ini tentulah sangat melelahkan. Ditandai dengan tarik ulurnya suatu hubungan, apakah harus dilanjutkan atau disudahi. Masing-masing pihak akan mempertanyakan apakah pasangannya layak untuk diperjuangkan atau dilepaskan. Ketika membanding-bandingkan apa yang dimiliki dengan pasangan, disitulah tumbuh rasa merasa paling bernilai dan berharga sehingga gengsi untuk mengungkapkan perasaan dan kasih sayang yang sesungguhnya. Mirisnya lagi adanya mindset “semakin kuat sendiri dan mandiri, maka semakin bernilai seseorang. Pemikiran ini membuat sikap bergantung atau membutuhkan pasangan akan menurunkan harga seseorang. Sepertinya ada yang konslet dengan pemikiran ini.

          Tawar menawar harga diri ini juga tentunya akan menyita waktu dan menguras perasaan karena menguji seberapa kuat dan sabar pasangan menjalaninya. Karena pasangan kekasih bak orang asing yang tidak ada ikatan darah, maka tidak ada kasih sayang dan perasaan yang tulus layaknya sebuah keluarga sedarah. Maka bukan ikatan batinlah yang menyatukan mereka seperti keluarga, justru karena mengungkit perbedaan “harga” tersebut yang akan memisahkan mereka.

         Dan sepertinya tawar menawar harga diri ini akan dialami semua pasangan menjelang pernikahan. Hal ini akan menyebabkan pertengkaran hebat dan bisa jadi berakhir dengan perpisahan sebelum pernikahan terjadi. Walaupun bisa melewati hingga tahap pernikahan, sikap membanding-bandingkan “harga” ini akan terus berlanjut selama masa pernikahan. Karena pada dasarnya tidak ada cinta yang tulus dalam hubungan tidak sedarah, berbeda dengan hubungan orang tua dengan anak yang memiliki cinta yang tulus karena ikatan darah.

          Tapi tawar menawar harga diri ini tidak akan terjadi jika masing-masing pihak saling mencintai dengan “tulus” dan saling menerima kekurangan untuk melengkapinya. Hubungan yang bahagia sejatinya saling bergantung dan membutuhkan hingga ikatan itu kuat dan sulit dilepaskan. Cinta tidak menilai harga seseorang dari materi, tapi dari ketulusan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *