Halalin Adek Bang…

 “Jadikan aku yang halal bagimu”

Kira-kira begitulah bunyi sepenggal kalimat dalam film “Ayat-Ayat Cinta” yang meledak beberapa tahun silam. Dan…entah mengapa kalimat ini menjadi viral dikalangan anak muda jomblo saat ini.

“Belum halal…haram donk, memangnya b*bi? 

“Kalau haram gak boleh disentuh”

Terlihat ekstrim kah? Bila dilihat dari sudut pandang Islam memang tidak ada yang namanya pacaran tapi langsung menikah. Dan tentang pacaran itu sendiri tergantung sudut pandang masing-masing. 

Sebenarnya agak menganggu pikiran saya dengan kata “menghalalkan” ini, karena sepertinya kata “menghalalkan” ini telah mempersempit makna pernikahan itu sendiri. Apakah pernikahan adalah satu-satunya cara menghalalkan perbuatan mesum saat pacaran? Pertanyaannya, apakah pacaran hanya berisi perbuatan mesum? Apakah ada pacaran yang sehat, pacaran untuk menikah?

Pacaran sehat sejatinya hanya milik orang-orang dewasa dan matang yang serius untuk menikah. Maka pacaran dianjurkan hanya untuk usia dewasa yang siap menuju pernikahan. Pacaran di usia ini memiliki pandangan jauh kedepan untuk membina masa depan bersama bukan untuk kesenangan sesaat.  Maka tidak terlintas dalam fikiran untuk berbuat mesum, namun serius pada hal-hal yang menunjang masa depan bersama. Pacaran ini berdasarkan cinta bukan nafsu dimana nafsu tidak akan terbersit dalam fikiran.  

Pacaran yang dilarang yaitu pacaran di usia dini dimana belum ada tujuan untuk menikah, hanya untuk mencari kesenangan belaka. Maka tidak heran bila pacaran usia dini hanya diisi dengan bersenang-senang bahkan cenderung berbahaya ketika gejolak hasrat dan nafsu tidak dibarengi dengan logika dan pikiran yang panjang. Karena pacaran di usia dini hanyalah berdasarkan nafsu bukan cinta.  Dan pacaran inilah yang dilarang oleh agama dan seharusnya dikontrol pula oleh keluarga.

Nyatanya makna pernikahan sangatlah luas, bukan sekedar kegiatan sex yang dihalalkan, namun disana ada tanggung jawab secara moral dan agama. Janji pernikahan yang diucapkan menjadi tanggung jawab moral di dunia dan di akhirat, karena melingkupi segala aspek kehidupan tidak hanya seputar sex.

Oke…otak laki-laki dan perempuan memang beda. Ketika berduaan dengan lawan jenis, otak laki-laki hanya tertuju pada nafsu sedangkan otak wanita cenderung tertuju pada kesenangan. Namun ketulusan dan kesucian cinta,  kematangan dan kedewasaan jiwa serta keseriusan membina masa depan akan membuktikan kearah mana pikiran mu tertuju. Cinta tidak akan memberi ruang untuk nafsu merusak hubungan yang suci. 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *