Gerakan Gen# Langit Biru untuk Masa Depan Cerah Bersama Pertamina

          Pernah melihat langit biru cerah dengan awannya yang putih bersih? Pemandangan seperti ini sering kita jumpai di daerah pedalaman Indonesia baik di pegunungan ataupun pantai. Pegunungan dan pantai menyuguhkan pemandangan yang mampu membuat takjub dan pastinya membuat rindu untuk kembali karena udaranya yang bersih dan masyarakatnya yang sederhana. Ya, daerah pedalaman mempunyai kualitas udara yang masih alami dan segar hingga menyehatkan untuk dihirup dan dipandang mata dengan langitnya yang biru. Mengapa daerah pedesaan dan pedalaman memiliki kualitas udara yang sehat? Ya, karena aktifitas penduduknya sebagian besar bertani atau nelayan yang kadang berjalan kaki menuju tempat mereka menggali rejeki. Mereka memilih bertani dan nelayan dikarenakan jarang sekali bahkan tidak ada kegiatan industri yang menyumbang emisi limbah baik padat,cair maupun udara.  Hingga alam pedesaan seperti ini merupakan alam hunian yang nyaman dan impian bagi semua orang.

          Lalu bagaimana dengan lingkungan perkotaan dimana sumber nafkah yang paling banyak terdapat di kota-kota besar. Seperti Jakarta yang menjadi kota terpadat di Indonesia bahkan menduduki kelompok kota terpadat di dunia. Kepadatan kota Jakarta ini bisa dilihat dari pemukiman penduduk yang saling berhimpitan dan lalu lintas yang bergerak lambat saking membludaknya kendaraan di jalan raya. Jakarta seperti memiliki magnet tersendiri yang mampu menarik masyarakat sekitarnya memenuhi kehidupan kota yang nyaris tanpa tidur ini. Mobilitas dan urbanisasi yang tinggi membuat kota Jakarta semakin padat dari tahun ke tahun. Magnet yang memberikan mimpi kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera membuat banyak orang berbondong-bondong mencari sesuap nasi di kota ini. Memangnya ada apa di kota Jakarta? Apapun bisa jadi pekerjaan di kota ini walaupun hanya sebagai tukang parkir atau kuli panggul yang umumnya tidak ada di daerah. Mencari uang di Jakarta terkesan lebih mudah meskipun hanya bermodal tenaga dan keahlian seadanya. Perkantoran baik nasional maupun multi nasional dari berbagai industri tersebar di seluruh pelosok kota ini. Bagi mereka yang beruntung memiliki pendidikan lebih baik, bekerja di kota Jakarta merupakan impian baik dalam mengejar karir maupun mengumpulkan pundi-pundi uang.

          Dibalik cerita kesuksesan di kota Jakarta tentunya ada kisah miris yang mengiringinya. Penduduk Jakarta yang lebih dari 12 juta di siang hari dan lebih dari 10 juta di malam hari memberi dampak kesemrautan dimana-mana. Tak terkecuali mobilitas yang tinggi para pencari kerja yang membuat jalan-jalan ibukota seolah tak sanggup lagi menampung jumlah kendaraan. Pertumbuhan jumlah kendaraan tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan jalan. Membludaknya jumlah kendaraan tentu memberi efek selain kemacetan juga polusi udara yang tinggi. Walaupun sudah banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi kemacetan seperti memperbanyak tranportasi umum, menambah ruas jalan, uji emisi kendaraan secara berkala namun rupanya tak jua mampu mengurangi kemacetan dan polusi udara juga tak dapat dihindari. Sering pula kita mendapati pemandangan orang- orang yang memakai masker di ibukota guna mengurangi efek polusi udara bagi kesehatan pernafasan mereka. Meskipun Bus TransJakarta telah memakai bahan bakar gas yang ramah lingkungan, namun kendaraan lainnya masih menggunakan bahan bakar minyak bumi yang banyak mengeluarkan emisi yang mengotori udara.  Taman-taman kota yang dibangun pemerintah mungkin dapat mengurangi polusi namun masih saja kita menghirup bau tidak sedap dan melihat asap putih hingga hitam yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor di Jakarta.

          Sepertinya masalah polusi ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Karena disinilah kita hidup dan kewajiban kita pula untuk menjaga kebersihan lingkungan kita sendiri. Perlu kesadaran dari masyarakat untuk menjaga kebersihan udara. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu mengganti bahan bakar kendaraan dengan kualitas yang lebih baik, karena semakin tinggi kualitas bahan bakar, semakin ramah pula terhadap mesin dan lingkungan. Generasi Milenial saat ini sebagai generasi produktif dan pengguna kendaraan bermotor terbesar perlu menyadari pentingnya kualitas bahan bakar untuk mengurangi polusi udara yang tentunya akan berdampak baik pula untuk mesin kendaraan. Generasi Milenial sudah sepatutnya menjadi pembaharu dan penggerak terhadap masa depan yang lebih cerah dengan peduli terhadap kebersihan udara yang menjadikan langit biru dan bersih. Inilah saatnya Generasi Milenial menjadi Generasi Langit Biru untuk menciptakan masa depan yang lebih baik dengan lingkungan yang sehat.

          Menyadari pentingnya masa depan cerah dengan langit biru, perusahaan penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia-Pertamina pun telah melakukan langkah- langkah menuju kualitas bahan bakar yang lebih baik. Melalui proyek kilang minyaknya, Pertamina sejak tahun 1999 telah berinovasi menghasilkan kualitas BBM yang lebih baik dari kadar RON rendah Premium (RON 88) menjadi Pertamax dengan kadar RON lebih tinggi (RON 92). Terbukti kualitas bahan bakar Pertamax dengan kadar RON 92 yang lebih tinggi mampu mengurangi emisi udara. Nilai oktan RON (Research Octane Number) adalah pengukuran standar dari proforma suatu bahan bakar. Nilai RON menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa ditahan oleh BBM sebelum terbakar secara spontan (igniting). Semakin tinggi nilai RON akan berdampak baik terhadap kinerja mesin karena BBM menjadi lebih lambat terbakar dan tidak meninggalkan residu pada mesin yang bisa mengganggu kinerjanya sehingga sisa pembakaran pada mesin bisa diminimalisir.

          Mengenal lebih dekat perbedaan bahan bakar Premium dan Pertamax, berikut ulasannya.

~Premium~

Premium atau biasa disebut bensin merupakan jenis distilat yang memiliki warna kekuningan yang jernih. Premium mengandung RON 88 dengan rasio kompresi 7:1 s/d 8:1 merupakan kadar RON paling rendah diantara BBM kendaraan bermotor yang dipasarkan SPBU Pertamina di Indonesia. Dari segi polusi, premium menghasilkan NOx (Nitrogen Oksida) & COx (Carbon Oksida) dalam jumlah besar. 

~Pertamax~

Pertamax merupakan BBM berwarna biru kehijauan yang dibuat menggunakan bahan tambahan zat aditif. Pertamax diluncurkan sebagai pengganti Premix karena memiliki unsur berbahaya bagi lingkungan. Dari segi polusi, Pertamax menghasilkan NOx & COx dalam jumlah yang sangat kecil. Pertamax dengan RON 92 memiliki rasio kompresi 10:1 s/d 11:1.

Rasio kompresi dapat dilihat di buku manual kendaraan bermotor. Kendaraan bermesin kompresi tinggi cocok menggunakan bahan bakar beroktan tinggi. Pertamax sangat disarankan untuk mesin kendaraan bermotor produksi mulai tahun 1990. (perspektifofficial.com).

          Nah, setelah tahu Pertamax lebih baik dari Premium dari segi kualitasnya terhadap mesin dan efeknya terhadap lingkungan, semakin yakin kan untuk beralih ke Pertamax. Ayo mulai dari diri sendiri ciptakan udara bersih dan langit biru dengan menggunakan BBM yang ramah lingkungan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *