Resensi Film : Muhi-Generally Temporary (Tolerance Film Festival 2017)

           Salah satu film yang diputar di Tolerance Film Festival 2017 berjudul Muhi-Generally Temporary. Film ber-genre dokumenter ini mengambil setting di Jerussalem, Palestina. Film ini menggambarkan kisah nyata kehidupan sebuah keluarga ditengah konflik wilayah antara Israel dan Palestina. 

          Muhi adalah nama panggilan dari Mohammad, seorang bocah laki-laki dari keluarga muslim di Gaza, Palestina. Muhi menjadi korban ledakan bom di Jalur Gaza dalam konflik Israel-Palestina. Muhi dilarikan ke rumah sakit di Israel dan harus mengamputasi kedua kaki dan tangannya. Sejak saat itu Muhi berjalan dengan kaki palsu. 

          Muhi  dirawat selama 7 tahun ditemani kakek dan neneknya. Ibu kandungnya merawat kakak dan adiknya di Palestina dan baru bertemu dengannya setelah 4 tahun karena sulitnya perizinan. Dalam pertemuan singkat itu ibunda Muhi menangis terharu menyadari Muhi masih mengenali dirinya. Paman Muhi, Nasrallah pun menjadi korban dan sempat dibawa ke rumah sakit ini, namun ajal menjemputnya ketika kembali ke Palestina karena kondisi disana tidak kondusif. Mereka selalu menyebut nama Allah dan percaya Allah akan menolong mereka. 

          Di rumah sakit Muhi mempertanyakan kenapa Allah mengambil kaki dan tangannya.  Beberapa volunteer dari kebangsaan non-Arab membantu psikologis Muhi. Disini Muhi belajar shalat dan mengaji dari kakek neneknya. Neneknya memperkenalkan Taurat sebagai kitab suci Yahudi dan mengejek kakeknya karena janggutnya seperti Sinterklas. Muhi senang ketika ikut merayakan Paskah. Israel memberikan izin kepada kakeknya untuk bekerja sebagai petugas kebersihan rumah sakit agar kebutuhan mereka terpenuhi. 

          Film ini dikemas dalam kualitas gambar yang baik dengan lighting dan sound yang menunjang.  Alur cerita mengalir sesuai waktu sehingga mudah dipahami. Peran para pemain terlihat natural. Film ini layak ditonton karena memberikan cara pandang baru. Nilai moral dari film ini adalah rasa kemanusiaan tidak melihat suku bangsa, pihak Israel mempunyai itikad baik membantu korban konflik dan kehidupan umat muslim Palestina yang terbuka terhadap agama Yahudi dan Nasrani. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *