Review Film : Marlina – Si Pembunuh dalam 4 Babak

Film sinema berjudul “Marlina – Si Pembunuh dalam 4 Babak” seperti membantah kesan bahwa suasana seram dan mencekam suatu film dibangun dari suara atau musik  yang tiba-tiba kencang mengagetkan jantung para penonton. Film ini sangat minim suara dan musik yang dramatis namun kekuatan ceritanya mampu menghadirkan suasana mencekam hingga akhir cerita. Film ini sukses membuat tubuh saya gemetar dan merinding hingga beberapa saat setelah meninggalkan ruang teather.

Film karya sutradara Mouly Surya yang diperankan oleh Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, dkk ini mempunyai kualitas gambar yang tajam dan sempurna menangkap angle pemandangan eksotis Sumba. Logat khas Sumba dari Marsha Timothy sebagai pemeran Marlina terlihat natural seperti penduduk asli dengan balutan kain khas Sumba. Belum lagi Yoga Pratama sebagai pemeran perampok yang membawakan lagu berbahasa Sumba dengan merdu diiringi alunan gitar, seolah membawa penonton terbang ke tanah Sumba. Film ini mampu dengan apiknya mendeskripsikan kecantikan alam dan budaya Indonesia, khususnya Sumba.

Dari segi cerita, film ini tidak membosankan walau minim musik, bahkan menegangkan sejak babak pertama “perampokan” dimana ada 7 kawanan perampok mendatangi rumah Marlina, seorang janda yang tinggal dengan suaminya yang telah menjadi mummy. Mereka merampok hewan ternak dan akan bermalam untuk mensetubuhi Marlina. Ancaman secara verbal membuat Marlina tak kuasa melawan karena rumahnya yang jauh dari tetangga. Tokoh Marlina digambarkan sosok yang tenang namun cerdas dan mandiri. Saat makan malam dia meracuni 4 perampok hingga tewas. 2 kawanan perampok pergi menggiring semua hewan ternak. Terakhir Markus dengan cerdik memilih menyantap tubuh Marlina. Marlina tak mampu melawan namun dengan tangan dinginnya ia membalas dengan memenggal kepala Markus.

Babak kedua “Perjalanan” dimana Marlina dengan santainya menjinjing kepala Markus saat bertemu temannya Novi yang sedang hamil 10 bulan. Mereka menaiki truk yang membuat penumpang lain bergidik dan kabur melihat tentengan Marlina.

Babak ketiga “Pengakuan Dosa” Marlina menceritakan kisahnya kepada Novi namun menolak disebut melakukan dosa. 2 kawanan perampok berhasil menyita truk ketika mereka sedang pipis. Novi kembali ke truk namun Marlina bersembunyi. Supir pun dibunuh dan ketika hendak dikubur oleh perampok, penumpang membawa kabur truk. Suasana merinding ketika Marlina dihantui tubuh Markus tanpa kepala dengan memainkan gitar selama perjalanan. Dengan menunggangi kuda Marlina sampai di kantor polisi, namun ia tidak ditanggapi serius bahkan cenderung disalahkan karena tidak melawan. Marlina pun pasrah dan menangis saat Topan, bocah penjaga warung dekat kantor polisi mencoba menenangkannya. Topan bagaikan pelipur lara yang mengingatkan Marlina akan anaknya yang telah meninggal dunia. Sejenak Marlina melupakan masalahnya sambil tertawa saat mandi di rumah Topan. 

Babak keempat “Kelahiran” ini digambarkan Novi yang sampai di rumah dan bertemu suaminya Umbu. Fitnah selingkuh dari salah seorang perampok membuat Novi dipukuli hingga jatuh dan ditinggal oleh Umbu. Si perampok melihatnya dan mengancam Novi agar menyuruh Marlina pulang membawa kepala Markus. Sesampainya di rumah, Marlina hendak diperkosa lagi, namun Novi berhasil memenggal kepala sang perampok. Seketika Novi merasa ingin melahirkan dan Marlina membantu persalinan. Mereka pun menangis terharu melihat bayi yang baru dilahirkan.

Nilai feminisme dari film ini digambarkan dari sosok Marlina dan Novi sebagai korban kekerasan laki-laki yang tetap  kuat dan tegar berjuang sendiri. Perasaan tertindas dan senasib membuat ikatan persahabatan mereka semakin kuat. Saling support sesama wanita menjadi pemandangan yang mengharukan diakhir cerita. 

Film berkualita ini sangat layak ditonton bahkan digadang-gadang sebagai film terbaik tahun ini bersaing dengan Kartini. Dunia internasional pun telah mengakuinya dalam penghargaan festival film internasional. Bangga karena film ini mampu mengangkat nama Indonesia ke kancah dunia. Kita sebagai anak negeri patut mengapresiasi dan mendukung film Indonesia sebagai gerbang informasi dan budaya bangsa. 


2 Replies to “Review Film : Marlina – Si Pembunuh dalam 4 Babak”

  1. aku suka filmnya! latar suasananya bikin tegang, Sumbanya cantik! awalnya aku kira dia bakal bunuh perampoknya 4 babak ntah sampe mutilasi atau jasadnya dicabik2 atau gimana, eh ternyata enggak hehe. nice, kak arlin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *