Desa Eksklusif, Model Pembangunan Ekonomi Tanpa Kelaparan

          Indonesia telah mengalami kemajuan ekonomi yang signifikan sejak era Reformasi dimulai tahun 1998 lalu. Era Orde Baru yang dulu masih didominasi pemerintah dengan segala keterbatasannya dalam pengelolaan sumber daya kini berkembang pesat dengan menggaet investor dengan sistem pengelolaan yang lebih baik dan persentase bagi hasil terbesar untuk Indonesia tentunya. Tidak dipungkiri negara kita masih ketinggalan dari segi SDM dan teknologi maka untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi yang kian mendesak dibutuhkan langkah-langkah signifikan yang tepat sasaran. Seiring pembangunan SDM yang sedang digalakkan guna mencapai kesetaraan dengan bangsa lain baik berupa banch marking ataupun mengadaptasi teknologi luar untuk kepentingan dalam negeri, kiranya mengundang investor untuk berinvestasi adalah langkah cepat untuk menyerap dan mempelajari teknologi baru dan tentunya untuk membangun ekonomi dengan lapangan kerja baru. 

          Namun ditengah- tengah kemajuan ekonomi tersebut ternyata masih ada rakyat Indonesia yang kekurangan pangan terutama di pelosok desa yang jauh dari jangkauan kota besar. Sering kita jumpai masyarakat di pedesaan yang kesulitan mencari pekerjaan dan hasil pertanian yang tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka. Langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah saat ini untuk percepatan pembangunan ekonomi daerah yaitu pengalokasian APBN untuk dana desa. Selain dana desa, pemerintah juga dengan cekatan telah membangun berbagai infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan pemerintah saat ini sangat mendukung proses pemerataan pembanguanan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, maka kita perlu mengapresiasinya dengan memanfaatkan dana desa dan infrastruktur ini sebaik-baiknya untuk pembangunan desa.

SEKTOR AGRARIS

          Hal mendesak untuk Indonesia saat ini memang pembangunan ekonomi dan ekonomi yang kuat akan membangun kemandirian sektor lainnya. Sejarah membuktikan bahwa terkenal sebagai negara agraris menjadikan Indonesia incaran para penjajah pada ratusan tahun silam. Bahkan kesuburan tanah Indonesia sudah tidak diragukan lagi sampai saat ini. Tiap wilayah Indonesia memiliki ciri khas kesuburan tanah dan komoditi pangan tersendiri. Kontur tanah dan suhu udara yang bervariasi dari Indonesia timur sampai barat membuat Indonesia kaya akan aneka ragam komoditi pangan. Komoditi pangan yang dulu menjadi incaran para penjajah tentunya dapat diunggulkan untuk komoditi eksport saat ini. Kekayaan alam adalah kelebihan tanah air tercinta kita Indonesia. Maka sudah selayaknya kita mengolah kelebihan ini menjadi keunggulan di mata dunia. Inilah ciri khas dan kekuatan negara kita yang telah lama diagungkan negara lain pada masa penjajahan.

          Menjadi eksportir terbesar dunia untuk bahan pangan adalah tujuan yang harus dicapai oleh Indonesia. Seiring pesatnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintahan saat ini sangat menunjang komoditi pangan Indonesia menjadi bahan eksport yang memenuhi pasar dunia. Beberapa komoditi pangan kita telah menduduki 10 besar pemasok kebutuhan dunia, diantaranya :

1. Kelapa Sawit

Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar dunia dengan produksi 31,1 juta ton per tahun yang kemudian disusul oleh Malaysia dan Thailand (ilmugeografi.com)

2. Beras

Indonesia diurutan ketiga produsen beras terbesar dunia setelah China dan India dengan produksi 70.8 juta ton per tahun (kompas.com-Des 2015)

3. Biji Kopi

Indonesia menempati urutan keempat dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia dengan produksi 660 juta kilogram biji kopi pertahun (Liputan6.com-29 Des 2016).

4. Kakao

Sebagai bahan baku coklat Indonesia menempati posisi ketiga pemasok kakao terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana dengan jumlah produksi 777.500 ton per tahun (worldatlas.com)

5. Karet Alam

Indonesia menempati urutan kedua penghasil karet alam terbesar dunia setelah Thailand dengan jumlah produksi 3.107.544 ton per tahun, kemudian disusul oleh Vietnam (ilmupengetahuanumum.com) 

Sedangkan 7 komoditas eksport andalan Indonesia saat ini adalah 5 komoditi pangan diatas ditambah dengan sektor lain yaitu batubara dan energi geothermal.

          Kesuburan tanah Indonesia ini diakui negara-negara Eropa khususnya yang pernah menjajah Indonesia, dimana rempah-rempahnya seperti kayu manis dan pala menjadi jawara dunia saat itu. Beberapa daerah penghasil pangan terbesar di Indonesia yaitu :

1. Kelapa Sawit : Riau

2. Beras : Jawa Timur

3. Biji Kopi : Aceh, Toraja, Flores, Jawa, Kintamani Bali (beberapa daerah punya ciri khas kopi masing-masing)

4. Kakao : Palu Sulawesi Tenggara

5. Karet Alam : Sumatera Selatan

          Beberapa daerah penghasil komoditi pangan andalan Indonesia tersebut sangat memerlukan perhatian khusus dari pemerintah agar menjadi “Desa Eksklusif”. Konsep dari Desa Eksklusif ini yaitu mengkhususkan mata pencaharian penduduk setempat sesuai keunggulan yang dimiliki masing-masing daerah baik bidang pertanian atau kelautan. Dalam wilayah agraris, desa tersebut akan disebut sebagai Kampung Kelapa Sawit, Kampung Beras, Kampung Kopi, Kampung Kakao dan Kampung  Karet. Pemerintah sendiri ikut menunjang dari segi infrastruktur, irigasi, mesin, alat, bibit unggul, pupuk dan regulasi pemasaran. Dana desa yang dikucurkan pemerintah saat ini sebaiknya dialokasikan secara khusus untuk menunjang pembangunan Desa Eksklusif ini termasuk untuk pelatihan dan peningkatan SDM penduduk setempat. Setelah semua penunjang terpenuhi desa ini dapat disebut sebagai desa mandiri yang akan membentuk kemandirian ekonomi. Selanjutnya kemandirian ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan sektor lainnya seperti kemampuan mengenyam pendidikan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.

          Rempah-rempah Indonesia yang dulu pernah berjaya pada masa penjajahan dan kini tidak menjadi penyumbang terbesar dunia perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah untuk mengembalikan kejayaannya seperti di masa lampau.  Rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, pala sampai buah-buahan dan sayur mayur khas tiap daerah perlu dikelola secara serius menjadi Kampung Rempah, Kampung Buah dan Kampung Sayur. Pemberian bibit unggul, pupuk, pembangunan infrastruktur jalan, irigasi dan transportasi perlu mendapatkan alokasi dana khusus dari pemerintah untuk mewujudkan Desa Eksklusif ini.

SEKTOR MARITIM

          Selain kejayaan sebagai negara agraris, Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim. Dengan 2/3 wilayah RI yang berupa perairan, Indonesia pastinya kaya akan hasil laut dan garam. Wilayah RI yang sebagian besar perairan menjadikan RI nomor 2 terbesar dunia penghasil ikan laut dengan hasil 13 juta ton per tahun. Sedangkan China yang menduduki posisi pertama produsen ikan laut dengan hasil 50 juta ton ikan per tahun. Kualitas ikan Indonesia sendiri nomer 4 terbaik dunia setelah China, Norwegia dan Thailand. Sedangkan daerah penghasil ikan terbesar Indonesia yaitu Sulsel, NTT, Sulteng dan Jawa Timur. Dengan sedikitnya pencapaian hasil laut Indonesia dibandingkan China, pemerintahan saat ini menunjukkan keseriusannya dalam memaksimalkan hasil laut melalui Departemen Kelautan dibawah Menteri Susi Puji Astuti. Desa Eksklusif dalam bentuk Kampung Nelayan di Sulsel, NTT, Sulteng dan Jawa Timur patut diterapkan pemerintah dengan memberikan modal kapal nelayan yang besar ditambah peralatan yang memadai agar hasil tangkapan nelayan lebih banyak. Saat ini masih banyak nelayan menggunakan kapal kecil sehingga tidak maksimal dalam mengeruk ikan-ikan di laut. Pembangunan infrastruktur jalan, dermaga dan armada transportasi juga akan sangat menunjang kemajuan Kampung Nelayan ini.

           Miris memang dengan begitu luasnya lautan Indonesia ternyata negara kita tidak termasuk 10 besar penghasil garam dunia. Daerah penghasil garam di Indonesia sendiri tersebar disepanjang Laut Jawa dan yang terbesar berada di Cirebon dengan jumlah produksi 435 ribu ton pada tahun 2015 yang kemudian anjlok drastis di tahun 2016. Faktor cuaca sangat mempengaruhi produksi garam tanah air. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, garam juga diperlukan untuk berbagai industri dan farmasi yang membutuhkan kualitas garam yang baik. Sayangnya kualitas garam kita saat ini belum bisa memenuhi standar yang dibutuhkan sehingga masih perlu import garam berkualitas dari negara lain. Namun daerah-daerah penghasil garam ini dapat dikelola menjadi Kampung Garam dengan bantuan pemerintah dalam pembangunan tambak-tambak garam dan tentunya pembangunan infrastruktur jalan dan akomodasi untuk kelancaran distribusi.

          Dari ide tentang Desa Eksklusif tersebut dapat disimpulkan bahwa Desa Eksklusif yang bisa dikelola saat ini diantaranya :

1. Kampung Kelapa Sawit di Riau.

2. Kampung Beras di Jawa Timur.

3. Kampung Kopi di Aceh, Toraja, Flores, Jawa, Kintamani Bali. 

4. Kampung Kakao di Palu Sulawesi Tenggara.

5. Kampung Karet di Sumatera Selatan.

6. Kampung Nelayan di Sulsel, NTT, Sulteng dan Jawa Timur.

7. Kampung Garam di Cirebon dan daerah pesisir Laut Jawa.

8. Kampung rempah-rempah (Cengkeh, Kayu Manis, Pala, dll).

9. Kampung buah (Durian Medan, Duku Palembang, dll).

10. Kampung sayur mayur di Jawa Barat dan daerah lain.

Dana desa yang sekarang telah dikucurkan pemerintah sebaiknya dialokasikan untuk pembangunan Desa Eksklusif. Untuk percepatan pembangunan Desa Eksklusif tidak menutup kemungkinan campur tangan swasta dan asing untuk investasi dengan syarat persentase pembagian hasil harus lebih besar untuk penduduk setempat. Dengan pembangunan Desa Eksklusif ini diharapkan Indonesia dapat berswasembada pangan dan stock pangan dapat memenuhi semua kebutuhan rakyat Indonesia sehingga tidak ada lagi rakyat Indonesia yang kelaparan. Dengan kemandirian ekonomi, masyarakat setempat pun akan sejahtera. Pengelolaan Desa Eksklusif yang baik dapat menjadikan komoditi pangan dan laut Indonesia menduduki peringkat 1 penghasil terbesar di dunia. Hal ini lebih memantapkan posisi Indonesia sebagai negara agraris dan maritim yang besar dan inilah kelebihan bangsa kita yang harus dikelola sebaik-baiknya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia dan menjadi nomor 1 yang terbesar di dunia.



 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *