Travelling is the New Wealth

          Hasil survey belakangan ini menunjukkan mall dan pusat perbelanjaan sepi pengunjung, bahkan beberapa ada yang sudah tutup. Pusat gadget terbesar di Jakarta pun dikabarkan sepi dan bakal tutup. Apakah daya beli hidup masyarakat sedang turun? Orang Indonesia terkenal dengan jiwa latah dan cepat bosan. Ada sesuatu yang baru semua orang seperti ingin tahu dan ikut-ikutan namun masanya tidak lama dan akan segera bosan dan meninggalkannya. Seperti nge-mall yang sempat jadi gaya hidup dan clubbbing ajeb-ajeb yang dulu sempat booming, kini semua perlahan ditinggalkan dan beralih ke hal baru travelling yang sedang happening saat ini

          Tentunya biaya travelling tidak murah, bahkan bisa lebih mahal dari nge-mall dan clubbing. Penyuka travelling menganggap kegiatan ini sebagai investasi pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan uang. Kepekaan sosial, mengenal sejarah dan budaya serta rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan adalah hasil yang didapat dari ber-travelling. Tentunya ada kebahagiaan batin yang didapat dari travelling mengingat semakin kompleks nya permasalahan hidup saat ini. Travelling bisa jadi cara baru melepaskan stress dan permasalahan yang dihadapi sehari-hari.

           Travelling sendiri dianggap hoby nya orang-orang berduit. Tak heran, karena butuh kocek yang besar untuk ber-travelling mulai dari biaya transportasi, penginapan, makan dan aksesoris nya. Padahal uang tersebut bisa dipakai membeli barang-barang mewah, kredit mobil, motor atau rumah. Namun investasi pengalaman dalam bentuk travelling saat ini telah menggeser investasi barang dan properti. “Hidup hanya sekali, maka nikmatilah”, begitu kira-kira pandangan generasi masa kini yang didera peliknya rutinitas sehari-hari.

          Maka kriteria “orang berduit” kiranya sedikit bergeser dari mereka yang punya barang-barang mewah menjadi orang yang hoby travelling. Walaupun tidak semua orang suka travelling dan lebih suka koleksi barang mewah, namun gaya hidup travelling seperti memberikan status “orang kaya” baru. Kekayaan saat ini tidak semata-mata dinilai dari kepemilikan barang mewah, namun gaya hidup travelling dapat dikategorikan kekayaan bukan dalam bentuk barang.

          Pamer foto kekayaan dalam bentuk barang-barang mewah kini sudah kuno. Foto-foto yang instagramable nyatanya adalah foto-foto plesiran, bukan foto-foto barang branded. Apalagi era digital saat ini berada dalam genggaman dunia medsos, maka orang-orang yang hoby plesiran seperti menguasai dunia maya. Pandangan masyarakat yang lebih open minded saat ini telah memerluas arti kebahagiaan, bahwa kebahagiaan tidak dinilai dengan materi, namun kepuasan batin. Dan travelling adalah salah satu kepuasan batin dari menikmati kekayaan. The real happiness is what you feel not what people see.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *