Sate Lebaran

Prolog

Dimalam yang telah larut itu, walaupun diiringi musik dangdut koplo yang bising, tetap saja wajah Kusno terlihat lelah dengan mata lima watt-nya. Ia tetap setia dibalik setir angkotnya sambil celingak-celinguk mencari penumpang dan berharap masih ada tambahan rejeki untuk hari itu. Pikirannya seharian itu tak lepas dari rengekan bocah kesayangannya, Raihan yang ingin makan sate daging kurban. Lusa adalah Lebaran Haji, dan aroma khas kambing telah tercium disepanjang jalan sejak seminggu lalu. Untuk orang pinggiran seperti Kusno yang tinggal di kontrakan pinggir Kali Ciliwung, daging kurban kadang sampai kadang tidak ke rumahnya. Yah, karena wilayah rumahnya memang jauh dari jangkauan keramaian kota. Makan daging mungkin hanya kesempatan sekali setahun bagi keluarga Kusno, yap hanya saat Lebaran Haji tiba. Maklum, Kusno hanyalah seorang supir angkot dengan 3 anak yang sudah bersekolah. Istrinya berjualan kue di SD tempat Raihan bersekolah. Setiap malam Kusno sampai di rumah mendapati istri dan anak-anaknya tertidur. Beruntung mereka masih sempat bertemu saat shalat subuh berjamaah. Continue reading “Sate Lebaran”