Pasangan Beda Generasi Akan Mengalami Hal ini

“Cinta akan membutakanmu. Bila tidak buta, maka bukan cinta namanya”

.

Setuju gak sih dengan ungkapan diatas? Kalau aku sih setuju banget, lah wong aku sendiri yang buat quote itu…haha. Pernah gak kita menetapkan kriteria tentang pasangan idaman kita? Sebagai seorang cewek, pasangan idamannya tentu cowok yang baik, setia, bertanggung jawab, ganteng, kaya, sholeh. Adakah cowok seperti itu selain Fachri? Ahh, rasanya tokoh seperti itu memang cuma ada di Film. Buat kamu para cowok pastinya punya kriteria cewek idaman yang cantik, sholehah, baik, setia, pintar masak, pintar dandan, bla bla bla.

“Woy…ngaca, siapa elu?”, begitulah respon teman kamu ketika kamu mengungkapkan kriteria pasangan idaman seperti diatas. Lalu, pernah gak sih ketemu orang yang ideal seperti itu sampai bikin ngeces tapi perasaan kita “flat” aja, padahal perfecto dan idaman banget kalau dilihat dengan mata. Lalu, pernah gak bertemu seseorang yang jauh dari kriteria idaman tapi bikin deg-degan kalau dekat-dekat dia, seperti buta gitu nggak bisa melihat kalau dia bukan pasangan yang kamu idam-idamkan, tapi entah mengapa rasa itu menyelinap didalam hati….#cieee.

“Karena cinta tidak membutuhkan alasan”

.

Ketika ditanya “Kenapa suka sama dia?” Jawabannya macam-macam. “Karena dia baik”, “Karena dia cantik”,Karena dia sholeh”, “Karena dia pintar“. Ketahuilah bahwa disaat kita masih bisa menyebutkan alasan kita menyukai seseorang, itu namanya suka bukan cinta. Karena kita tidak akan pernah tahu alasan kita jatuh cinta. Karena cinta adalah anugerah sang pencipta yang maha membolak balikkan hati dan datang begitu saja tanpa sebab. Duuhh…udah kayak Peri Cinta ya bahasanya, wkwkwk. Lalu, kenapa masih saja minder, tidak percaya diri disaat ada seseorang yang ingin bersamamu, seolah kamu tidak pantas dan tidak layak. Bukankah cinta seperti itu, tidak membutuhkan alasan.

“Kita bisa memilih dengan siapa kita menikah, tapi kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta”

.

“Si cowok jomblo, si cewek juga jomblo, kenapa gak jadian aja sih, kan sama-sama jomblo dan sama-sama mencari pasangan“. Nyatanya urusan hati tidaklah se-simple itu. Kalau simple maka tidak ada makhluk yang namanya jomblo.

“Karena tidak semua yang ada di depan mata, ada pula didalam hati”

.

Pertanyannya, perlu ya pakai hati, perlu ya ada perasaan cinta untuk menjalin hubungan? “Yang penting nyaman”, gitu sih kata orang-orang. Lalu, menjalin hubungan tanpa “rasa” itu nyaman gak sih?

“Karena salah satu syarat nyaman adalah rasa”

.

Kerennya, zaman dahulu pernikahan terjalin melalui perjodohan tanpa rasa cinta, tapi bisa awet ya sampai tua. Berbeda dengan zaman sekarang, ribut sedikit cerai. Ribet ya orang-orang zaman now, wkwkwk.

“Cinta tidak memandang asal usul, usia dan kasta”

.

Sejak zaman Datuk Maringgih dahulu, pernikahan berbeda usia jauh memang sudah ada. Umumnya laki-laki yang terpaut usia jauh lebih tua dari sang wanita. Karena cinta memang tidak mengenal usia. Ya… karena cinta tidak membutuhkan alasan usia, asal-usul atau kasta. Seperti kisah viral nenek usia 82 tahun yang menikahi pemuda usia 28 tahun, apakah trend sekarang adalah pernikahan wanita yang terpaut usia jauh lebih tua dari laki-laki? Eits…jangan salah, ternyata pernikahan seperti ini sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum kamu lahir ke dunia. Lihat saja Siti Khadijah yang terpaut 15 tahun lebih tua dari Nabi Muhammad SAW. Bahkan, Siti Khadijah adalah istri yang paling dicintai Nabi. Nabi tidak menikah lagi selama beberapa tahun setelah wafatnya Siti Khadijah. Bahkan, selama menikahi Siti Khadijah, Nabi tidak pernah menduakan beliau. Hhmm…so sweet ya?

Itu kan kisah Nabi zaman dahulu, kalau sekarang gimana? Wahh…kalau sekarang sih ribet, tau sendiri orang zaman sekarang kayak apa, haha. Belum lagi kemajuan teknologi dan gaya hidupnya, ribet deh pokoknya. Penasaran seperti apa masalah yang dihadapi pasangan yang berbeda usia jauh? Begini kira-kira ulasannya.

1. Gap of Mindset

Pastinya berbeda ya gaya pacaran para ABG dengan orang dewasa. Disini kita tidak sedang membahas dari segi agama ya, tapi dari segi hubungan sosial sebagai manusia…duuh ngomong apa sih, haha. Apa sih makna pacaran buat para ABG? apalagi kalau bukan buat having fun dan pamer, ya gak? Pamer sekedar menunjukkan eksistensi terhadap lingkungan, mungkin cinta “monyet”? Having fun pastinya akan menguras banyak biaya untuk menyenangkan pasangan seperti membelikan hadiah, traktir nonton atau makan. Bagi mereka, pacaran adalah menghambur-hamburkan uang.

“Uang bisa membeli kebersamaan, tapi tidak dengan cinta”

.

Mereka yang mempunyai gejolak gairah muda bila tidak diimbangi iman dan pemikiran jangka panjang tentu akan membahayakan.

” Menjalin hubungan dengan lawan jenis sebaiknya dimulai ketika sudah dewasa, karena kedewasaan akan membentengi diri dari hal-hal negatif”

.

Berbeda dengan gaya pacaran orang dewasa yang lebih matang dengan pemikiran jauh kedepan, bukan sekedar having fun sesaat. Bagi mereka yang pacaran di usia dewasa, tentu tujuannya untuk membina masa depan, maka pikiran mereka akan tertuju pada rencana-rencana bersama untuk masa depan. Kebersamaan mereka yang sudah dewasa bukan lagi untuk having fun atau menuruti gejolak semata, namun lebih kepada menyatukan visi dan misi untuk hidup bersama.

“Bagi orang dewasa, pacaran adalah quality time bukan having fun”

.

Maka, mereka tidak lagi menganggap biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kebersamaan adalah menghambur-hamburkan uang, karena tujuannya bukan untuk having fun tapi quality time.

“Mereka yang rela mengeluarkan biaya untuk kebersamaan adalah orang yang menempatkan relationship diatas uang”

.

2. Gap of Lifestyle

Tiap generasi pastinya punya cerita tersendiri, setuju kan? Zaman Dilan-Milea pastinya berbeda dengan zaman Awkarin-Gaga. Bagi wanita era Dilan-Milea, pasti pernah merasakan pacaran yang full of quality time banget ya. Pantas saja Dilan bilang “Jangan Rindu, berat, biar aku saja” #hhmm. Duhh…gentleman banget gak sih si Dilan ini, gak membiarkan wanitanya menanggung beban yang berat walau hanya sebatas menanggung rindu. Yap, karena zaman dulu itu belum ada telepon genggam, jadi kalau mau ketemuan janjian jauh-jauh hari dan akan berat rasanya menahan rindu. Kalau sekarang? Katanya sih era digital, semua serba online. Motonya saja “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Alhasil, pacaran zaman now terkesan gadget minded, tiap saat update status di medsos. Tidak ada lagi yang namanya rindu, apalagi hasrat bertemu. Ketemuan pun rasanya tidak ada greget lagi alias hambar, jauh banget dari yang namanya quality time, karena tiap saat sudah chat dan live report di sosmed. Berbicara dari hati ke hati pun sudah jarang banget, karena lebih penting curhat di sosmed, iya gak sih? Parahnya mental jadi menciut, beraninya hanya sebatas di dunia maya tapi tidak berani di dunia nyata…hhmm, ada yang kayak gini? Kalah jauh ya sama Dilan yang bermental baja, berani menyatakan perasaan dengan romantis melalui puisi dihadapan Milea langsung…#eeaa

“Cinta itu tentang ikatan bathin, dan quality time adalah cara terbaik menghargai hubungan”

.

3. Gap of Maturity

Memang sih usia tidak menjamin kedewasaan. Tapi pengalaman tentu akan mendewasakan pemikiran dan sikap seseorang, yekann? Generasi ku(now) pastinya sudah mengalami segala bentuk kisah cinta dari yang paling manis sampai yang paling pahit. Dari pengalaman pahit pernah “gagal”, pastinya mempengaruhi sikap dan pemikiran seseorang menjadi lebih bijak kedepannya. Maka jangan berharap si dia yang pernah “gagal” bakalan “peka” dengan cara kamu yang gak serius.

“Bijak itu lahir dari rasa sakit yang paling dalam”

.

Gen#Y mungkin pernah mengalami masa puber SMA dikasih kode lewat coretan di dinding kantin sekolah. Nah, Gen#Y sekarang kalau dikasih kode basi gak sih? Boro-boro deh “peka”, wkwkwk. Disaat kamu berharap si dia “peka” dengan kode-kode darimu, mungkin baginya kamu adalah orang yang ke-1.732 yang memberikan kode untuknya, kan basi jadinya!

“Peka itu soal basi atau tidak”

.

Beda dengan Gen#Z yang masih main kode-kodean tapi beda cara, lebih kekinian lewat sosmed dan ekspektasinya si dia bakalan “peka” tapi kenyataannya buat si dia kode lo itu basi! Logikanya, dia yang lebih berpengalaman yang mungkin pernah “gagal” diseriusin apakah bakalan “peka” dengan kode-kode yang terkesan gak serius dan “ngambang” gitu?

“Keseriusan itu tentang cara, dan kode identik dengan ketidakseriusan”

.

4. Gap of Experience

Semakin berumur semakin berpengalaman, setuju lagi kan? Paling nggak sudah mengalami lebih banyak hal. Sudah banyak makan asam garam gitu deh istilahnya. Nah, masalahnya laki-laki dituntut menjadi pemimpin yang membimbing dan mengayomi. Lalu, apa jadinya bila sang laki-laki yang kurang berpengalaman harus membimbing sang wanita yang lebih berpengalaman? Pengalaman disini dalam hal menjalin hubungan ya, bukan pengalaman kerja, hehe. Hhmm…bisa jadi terbalik ya, sang wanita yang membimbing laki-lakinya. Bila tidak bisa menempatkan posisi dengan baik, bisa jadi sang wanita menjadi besar kepala dan “ngelunjak”, alhasil sang wanita yang memimpin rumah tangga. Itulah kadang yang ditakuti para pria hingga mereka berusaha “membatasi” sang wanita. Dan…laki-laki harus mampu menahan ego untuk menerima masukan dari sang wanita yang mungkin lebih bijak dari dia, agar tidak timbul rasa tersinggung dan emosi. Hhmm…runyam kan, bila rumah tangga berantakan apalagi kalau sampe ada piring terbang didalam rumah, wkwkwk.

“Pengalaman tidak harus didapat dari kisah pribadi, tapi bisa pula dipelajari dari kisah orang lain”

.

Kira-kira kalimat diatas bisa menjadi solusi. Laki-laki dituntut lebih tahu karena laki-laki adalah pemimpin rumah tangga. Dan… pengetahuan tidak harus didapat dari pengalaman pribadi, tapi bisa juga didapat dari pengalaman orang lain. Maka, sang laki-laki sebaiknya banyak bergaul dan berkonsultasi dengan orang lain yang lebih berpengalaman. Biar gak “diajarin” terus sama istri, gitu loh..hihi.

Kira-kira begitulah sekelumit seluk beluk masalah yang dihadapi pasangan berbeda generasi. Dan, kelanggengan hubungan tergantung dari cara kita menyikapinya.

“Ketika kamu menyadari apa yang kamu hadapi, maka kamu akan tahu cara menghadapinya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *