Silaturahmi Lintas Agama, Sambung Rasa untuk Indonesia yang Berbhineka

Perayaan HUT Paroki ke-66 yang dilangsungkan di Gedung Karya Pastoral St. Paskalis Sabtu (26/5/2018) lalu, dengan tajuk “Sambung Rasa Anak Bangsa Lintas Agama dan Buka Puasa Bersama” telah memberikan gambaran tentang kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Dibuka dengan penampilan musik Islami Hadroh dan paduan suara gereja Lordes, “Budaya kekitaan demi pengamalan Pancasila, kita berbhineka kita Indonesia” diangkat oleh Romo Agustinus Ulahayanan sebagai keynote speaker, yang terinspirasi oleh ungkapan ketua MUI Ma’ruf Amin.

Diskusi santai dengan 3 narasumber : Alissa Wahid (koordinator Gusdurian), Dr.H.Abdul Mu’ti (perwakilan PP Muhammadiyah) dan Romo Felix Supranto (praktisi kerukunan umat beragama) ini berlangsung dalam suasana Ramadhan yang penuh toleransi antar umat beragama, karena acara ini dihadiri juga oleh perwakilan Gereja Batak Protestan Cempaka Putih, perwakilan umat Hindu Vihara Rawa Mangun dan Ikatan Konghucu Indonesia.

Apa yang menjadi perbincangan hangat dalam diskusi ini adalah, kondisi bangsa Indonesia saat ini yang sarat akan intoleransi antar umat beragama. Terlebih setelah peristiwa bom gereja di Surabaya beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh kelompok radikalisme.

Putri ke-4 Gusdur, Ibu Alissa Wahid dengan latar belakang psikologinya menyampaikan bahwa isu “Kristenisasi” telah menimbulkan ketakutan akan tersingkir dan tertindas, sehingga menimbulkan sikap populisme yang mengarah pada rasa ingin menjaga kemurnian kelompok dan mendominasi karena takut dikalahkan. Beliau mengungkapkan bahwa sikap mayoritarianisme terjadi diseluruh dunia. Di Asia, sikap mayoritarianisme berdasarkan agama, sedangkan di Amerika berdasarkan warna kulit/ras. Dengan kekuatan agama, hal yang membuat kita bisa melakukan lebih diantaranya rasa ketuhanan yang tidak hanya bersemayam didalam hati, tapi menjadi sumber kekuatan untuk membangun hubungan dengan orang lain yang berbeda. Di akhir materi beliau menyampaikan sepenggal pesan Gusdur :

“Yang berbeda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan”

.

Sepakat dengan Romo Agustinus, Bapak Abdul Mu’ti dari Muhammadiyah menekankan pada pertemuan tulus yang menciptakan rasa saling memberi. Membangun kerukunan dengan memperbanyak pertemuan, sehingga mengenal lebih jauh dalam berbagai tanya jawab dan dialog.

Sedangkan Romo Felix menekankan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat membangun kebersamaan dalam masyarakat. Kaum minoritas kreatif merawat Pancasila dengan mengenalkan identitas Katolik yang benar dengan beberapa perjumpaan yang akan mengikat persaudaraan antar agama.

Ditutup dengan acara buka puasa bersama dan pers conference, beberapa point yang perlu dicatat dalam sesi tanya jawab yaitu :

– Menanamkan toleransi pada anak dimulai dari pembinaan guru dan orang tua agar dapat memberi pendidikan dan contoh toleransi kepada anak. Dimulai dari lembaga pernikahan saat ini yang mulai mengadakan pendidikan parenting.
– Perkembangan media sosial dahulu banyak menebarkan kebaikan namun kini telah kalah dengan sebaran kebencian, maka kita harus menggenjot agar balance dengan pemberitaan kebaikan.
– Acara ini diadakan di bulan puasa karena sesuai dengan moment membersihkan hawa nafsu dari ankara murka termasuk permusuhan antar agama.
– Sekolah Islam saat ini juga telah banyak menyebarkan paham radikal. Problemnya adalah sikap ekslusivisme religius dimana salah satu agama merasa agama yang paling benar dan menganggap yang berbeda adalah musuh. Penetralisirnya adalah ajaran inklusivisme bahwa kita beda agama namun menghargai agama lain dalam rasa satu kebangsaan.

Acara yang berbalut rasa toleransi ini menumbuhkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan antar umat beragama. Acara inipun ditutup dengan penandatanganan prasasti oleh perwakilan tiap agama. Menariknya, acara buka puasa di gereja ini pun menimbulkan pertanyaan yang cukup dijawab dengan simple,kenapa tidak?”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *