Sehari Menyusuri Jejak Keberagaman Religi di Ibukota

Peribadatan Umat Hindu

Jakarta kota yang heterogen. Mencari suku apapun yang ada di Indonesia, akan kita temui di kota ini, setuju kan? Bahkan saya sendiri yang berasal dari daerah terpencil di pulau Belitung merasa takjub dengan adanya IKMB (Ikatan Keluarga Masyarakat Belitung) di Jakarta. Tentunya daerah kalian pun punya “paguyuban” seperti daerah saya.

Tak heran memang, gemerlap kota Jakarta yang menjanjikan lahan pekerjaan yang luas telah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat daerah untuk mengais rezeki di kota ini. Tak dipungkiri, mencari pekerjaan di kota Jakarta memang jauh lebih mudah dibandingkan di daerah. Apapun bisa menjadi pekerjaan di kota ini, bahkan bagi mereka yang hanya bermodalkan tenaga, bukan skill.

Kiranya itulah salah satu alasan beberapa masyarakat di pelosok daerah memilih hijrah ke Jakarta, untuk mencari kehidupan yang lebih baik tentunya. Maka, wajah Indonesia akan banyak kita temui di kota ini, berbagai warna kulit, bentuk wajah, budaya, agama dan bahasa ada disini.

Seperti perjalanan saya beberapa waktu lalu bersama teman-teman Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta yang berasal dari berbagai daerah, suku dan agama tetapi tinggal di kota Jakarta. Kami yang berjalan bersama dalam perbedaan keyakinan untuk mempelajari dan memahami perbedaan keyakinan itu sendiri. Yap, kota Jakarta adalah paket lengkap, kita dapat menemukannya di kota ini sambil menyusuri jejak keberagaman religinya.

Pura Hindu Terbesar di Jakarta

Perjalanan pertama kami menuju Pura Adhitya Jaya yang terletak di Jl. Daksinapati Raya No.10, Rawamangun. Pura ini bisa terlihat juga saat melewati jalan raya bypass Rawamangun. Pura ini dibangun sejak tahun 1972 dan menjadi tempat peribadatan umat Hindu terbesar di Jakarta. Seperti pura pada umumnya, memasuki kawasan pura ini seperti berada di Bali, daerah yang kental dengan budaya Hindunya.

Hal yang menarik ketika mengunjungi pura ini, kami bertemu dengan Pandita Agung Graha yang memberikan sedikit ulasan tentang kerohanian umat Hindu. Satu hal yang bisa dipetik dari ceramah religi beliau yaitu, apapun agamamu dan Tuhanmu, berdoa adalah hubungan pribadi manusia kepada Tuhannya dengan caranya masing-masing. Pemahaman inilah yang seharusnya menjadi pegangan agar masyarakat Indonesia yang beragam agamanya bisa saling menghormati kehidupan pribadi masing-masing kepada Tuhannya.

Agama Hindu sendiri ternyata mempunyai ciri khas masing-masing sesuai tempatnya berada seperti hindu Jawa, hindu Bali atau diluar negeri ada Hindu India.

Pura Adhitya Jaya, Rawamangun

Masjid Bergaya Eropa-Tionghoa

Perjalanan kami dilanjutkan menuju Masjid Ramlie Musofa. Masjid ini cukup terkenal di kawasan danau sunter karena arsitekturnya yg unik dan megah, perpaduan gaya eropa dan budaya china. Sejuk, damai dan agung, begitulah kesan saya tentang masjid ini saat berkeliling dari pelataran hingga kedalam masjid. Uniknya, kaligrafi di masjid ini terdiri dari bahasa Arab, China dan Indonesia. Kaligrafi China di masjid ini seperti menunjukkan identitas seorang mualaf tionghoa yang membangun masjid ini. Nama Ramlie Musofa sendiri merupakan singkatan dari nama keluarga pendiri masjid ini.

Ramlie : Ramli Rasidin & Lie Njoek Kim (suami-istri)

Musofa : Muhammad, Sofian, Fabianto Rasidin (anak-anak).

Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter

Kepercayaan Hindu India

Perjalanan kami selanjutnya menuju tempat peribadatan salah satu kepercayaan hindu di India, yaitu Hare Khrisna. Sayangnya saat itu sedang tidak ada jamaah yang beribadah dan untuk mengunjungi tempat harus memiliki izin terlebih dahulu. Dari tempat peribadatan ini kami mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan kepercayaan di India yang menyembah banyak dewa dan salah satunya adalah kepercayaan Hare Khrisna ini yang menyembah Dewa Khrisna.

Lukisan Dewa Khrisna

Gereja Termegah di Jakarta

Kemegahan Gereja Katedral sangat dikenal dengan arsitektur gaya eropanya. Terletak ditengah kota Jakarta, gereja yang berdiri sejak tahun 1901 ini kini dilengkapi pula dengan museum dan pelataran doa Goa Maria. Untuk museum sendiri tutup jam 4 sore. Bagian luar dan dalam Gereja Katedral ini sangat kental dengan gaya eropa. Tenang dan syahdu kesan yang ditangkap ketika berada didalamnya. Bagian dinding dalam Gereja Katedral ini ternyata terukir relief yang bercerita tentang kisah kristiani.

 

Gereja Katedral

Masjid Terbesar di Jakarta

Tepat berada didepan Gereja Katedral, berdiri megah bukti toleransi umat beragama di Jakarta, yaitu Masjid Istiqlal. Masjid ini sendiri dibangun pada era Presiden Suharto dan menjadi landmark kebanggaan umat Islam Jakarta sampai saat ini.

Masjid Istiqlal

Selesai menyusuri jejak keberagaman religi di ibukota ini, kami yang terdiri dari berbagai suku dan agama menghabiskan waktu malam bersama tanpa melihat perbedaan. Begitu indahnya kebersamaan, bukti toleransi dari kebhinekaan religi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *