Ganti Mindset, Berbisnis Yuk!

Bersama Futri Zulya,M.Bus (kanan)

“Wanita adalah makhluk yang spesial, setuju kan?”

“Iya, karena wanita adalah seorang MOM (master of multi tasking) yang bisa melakukan banyak hal di waktu yang sama”

“So, mengurus keluarga sambil ber-entrepreneur dan memberdayakan wanita-wanita disekitar kamu, kenapa nggak?”

Begitulah kalimat pembuka yang mencerahkan sekali dari Futri Zulya pada acara Woman Talk bertajuk “How to Start your Business” di Kawasan Kemang, Kamis 20 September 2018 lalu.

Menghadiri acara ini dan mendengarkan kisah Futri Zulya yang menggeluti dunia bisnis sejak muda membuat saya sedikit melongo, mengingat selama ini saya tidak pernah berfikir untuk berbisnis seperti beliau. Berangkat dari latar belakang keluarga dari seorang ibu yang wanita karier di sebuah instansi pemerintah, sepertinya saya terdidik untuk menjadi seorang pekerja di suatu perusahaan, bukan pengusaha. Semasa kuliah dulu, sudah terbayang cita-cita untuk masa depan saya, yaitu menjadi seorang wanita karier yang sukses dengan jabatan Manager di suatu perusahaan terkemuka dikawasan elit Jakarta. Haha…terlalu muluk memang kalau dipikir-pikir, tapi ya namanya mimpi nggak perlu tanggung-tanggung dan sah-sah saja kan, hehe. Namun, sempat juga terlintas untuk menjadi bussiness woman kala itu. Ahh…dasar ABG, memang sedang latah saja dengan kata-kata baru yang sedang hits di zamannya itu.

Seiring berjalannya waktu, dengan idealisme yang tinggi saya memulai menggapai cita-cita saya dengan bekerja di sebuah perusahaan asing. Awalnya saya sangat antusias sekali dan agak workaholic juga. Zaman dulu menjadi workaholic itu keren. Namun, setelah berjalan beberapa tahun, saya merasa seperti robot yang selalu diperintah dan diatur. Belum lagi boss yang galak serta lingkungan kerja yang penuh intrik dan politik, saling menjatuhkan dan mencari muka. Ahh…saya muak sekali dengan keadaan ini dan rasanya sudah mencapai titik jenuh terus-menerus menjalani kondisi seperti ini.

Alih-alih ingin meninggalkan dunia kerja yang memuakkan seperti itu, belakangan ini saya mulai berfikir untuk membuka usaha sendiri saja. Namun, saya belum mempunyai keberanian untuk itu, selain belum punya pengalaman juga karena belum ada modal. Hal positifnya, dengan pengalaman kerja bertahun-tahun di industri garment, saya mendapatkan cukup banyak pengetahuan tentang manajemen dan proses produksi garment. Terlintaslah dalam benak saya untuk membuka usaha di bidang garment ini. Namun kendalanya, saya belum punya gambaran tentang jenis garment seperti apa, segmen pasar dan modal tentunya.

Dilingkup keluarga sendiri, saya yang masih single ini sudah menjadi pengganti almarhumah ibu di rumah. Mau tak mau saya belajar memasak untuk keluarga saya. Tanpa disangka-sangka, dengan bermodal searching resep di internet saja saya sudah bisa menciptakan masakan yang enak menurut lidah saya dan papa saya, hehe. Wahh…sepertinya saya ada bakat nih. Mulailah terfikir untuk membuka usaha kuliner. Rencana saya sih ingin melestarikan dan mempopulerkan masakan khas kampung halaman saya, Belitung. Masakan Belitung belum banyak dikenal orang padahal citarasanya sangat khas dan enak. Sepertinya belum banyak juga rumah makan Belitung di Jakarta. Ya, kendala saya untuk merealisasikan impian ini lagi-lagi tentang modal.

Lingkungan pertemanan saya saat ini lebih banyak didominasi kalangan blogger. Entahlah, kenapa saya bisa kecemplung di dunia ini…haha. Saat SMA dulu saya pernah memenangkan lomba essay dan beberapa kali guru Bahasa Indonesia saya memuji hasil karya saya di pelajaran mengarang. Mungkin karena saya tertarik dan berbakat di dunia literasi, maka ketika saya melihat ada acara kopdar komunitas buku dan blogger (Kubbu-BPJ), saya langsung saja mendaftar. Di klub ini saya belajar banyak tentang dunia blogging. Saking larut dan asiknya dengan dunia tulis menulis ini, saya pun mulai mempunyai impian untuk menulis buku atau novel dan menjadikan blogger ini sebagai “my future job”, karena waktunya yang fleksibel bisa sambil mengurus keluarga. Menurut saya, blogger adalah seorang entrepreneur yang menjual buah pikiran dan untuk menjadi blogger ini saya hanya bermodalkan hp, laptop dan kuota internet. Tentunya yang paling saya butuhkan dari dunia blogging ini adalah networking. Dengan aktif di komunitas blogger, saya mulai mendapatkan networking yang luas dengan komunitas blogger lainnya. Salah satunya berkesempatan mengikuti acara Woman Talk dari Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur) dengan nara sumber Futri Zulya ini.

Futri Zulya, M.Bus (entrepreneur)

Acara ini saya bilang keren karena narsumnya yang keren, Futri Zulya pebisnis yang sudah punya banyak usaha diantaranya bidang fashion abaya, kitchen wear Haneda, kecantikan Z-Glow dan kids republic pre-school. Satu hal yang membuat saya kagum dengan beliau adalah, motivasinya berbisnis bukan hanya mencari materi tetapi memberdayakan wanita-wanita disekitarnya agar lebih mandiri. Wow, tujuan yang mulia dan menginspirasi sekali menurut saya. Memandirikan wanita-wanita lain adalah salah satu passion beliau dalam berbisnis. Ya, lakukan bisnis sesuai passion, saran dari beliau. Talk show yang sarat ilmu ini berlangsung sangat interaktif karena pembawaan yang santai dan ramah dari moderator Ani Berta dan narsum Futri Zulya. Apalagi acara ini diselingi fashion show abaya karya Futri Zulya dan kuiz interaktif, membuat acara ini terasa santai namun sarat akan ilmu yang bermanfaat. Seperti berjodoh memang, disaat saya mulai berfikir untuk membuka usaha sendiri, Tuhan memberikan jalan kepada saya melalui Ibu Ani Berta dari Komunitas ISB untuk mengikuti acata talk show entrepreneur bersama Futri Zulya ini. Menyimak uraian nara sumber kece ini selama 2 jam, saya mendapatkan banyak sekali masukan untuk memulai bisnis saya. Beberapa wejangan dari beliau yang bisa saya terapkan sebagai pemula yaitu :

1. What is your passion

Bisnis yang dipilih sebaiknya yang kita sukai dan sesuai passion, bukan karena trend. Contohnya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari dan nyaman untuk menjalaninya agar bisnis tersebut bisa bertahan lama

2. “You can’t do it all!”

Izin serta dukungan keluarga akan memperlancar jalan bisnis kita kedepannya. Sebagai wanita, prioritas kita tetaplah keluarga. Maka targetnya pun harus realistis sesuai keterbatasan.

3. Bussiness plan and research

Perencanaan itu penting. Pelajari selera pasar dan pakai metode analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) untuk mempelajari peluang bisnis yang akan kita jalani. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan pengusaha yang telah sukses.

4. Execute

Ya, sebaik apapun planning-nya, tanpa eksekusi semua nothing. Kendala utama bagi pemula pada umumnya adalah modal. Modal ini ternyata bisa didapat dari tabungan, aset berupa barang, pinjaman, networking dan kerjasama dengan partner. Jangan ragu untuk menjual atau menggadaikan aset untuk modal dan perbanyak networking seperti mencari mentor yang bisa dijadikan panutan.

5. Inovasi dan follow market trend

Kunci untuk bertahan dalam bisnis adalah selalu berinovasi mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti selera pasar, bukan idealisme pribadi. Namun idealisme bisa juga diterapkan asalkan disesuaikan dengan kemampuan pasar.

6. Mengelola keuangan

Peran ganda membuat kita harus memisahkan budget rumah tangga dan bisnis. Buat rencana keuangan untuk target pencapaian masa depan seperti membeli rumah, mobil, dll. Futri Zulya menekankan tentang hal penting dalam mengelola keuangan, yaitu:

– Memahami bagaimana uang bekerja (cara mendapatkan, mengatur, membelanjakan dan menginvestasikan).

– Miliki kecerdasan financial (kemampuan mengelola sumber daya).

– Mengatur arus kas (fungsi liquiditas dimana uang bisa cair dalam waktu singkat, fungsi anti inflasi berupa simpanan untuk menghindari penurunan daya beli dimasa datang serta fungsi capital growth untuk mengembangkan kekayaan).

– Mengelola arus kas (living 50% termasuk biaya tak terduga dan zakat, playing 20% untuk hiburan dan saving 30%).

Ok, saya sudah mulai mendapat gambaran untuk memulai bisnis saya, semangat ! Menurut saya, sebagai wanita kita harus bisa mandiri tanpa mengesampingkan fungsi utama mengurus keluarga. Menggantungkan pemasukan hanya dari gaji, apalagi bila bergantung 100% pada gaji pasangan sangatlah riskan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada pekerjaan atau pasangan kita di masa yang akan datang. Kemandirian wanita untuk berbisnis menurut saya perlu untuk pengembangan dan pengaktualisasian diri. Dan yang terpenting dari semua itu adalah, bisa bermanfaat untuk keluarga dan orang banyak. Selain untuk diri sendiri, tentunya berbisnis dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk meningkatkan taraf hidup orang lain. Suatu kebahagiaan tersendiri tentunya bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain.

“Let’s Start our Bussiness,

Keep on Spirit, yeay !”

Woman Talk with Futri Zulya, M.Bus

 

 

 

16 Replies to “Ganti Mindset, Berbisnis Yuk!”

  1. Kalau lihat kesulitan keluarga-keluarga miskin di daerah saya, suka berangan-angan untuk memberdayakan mereka, tapi masih kurang modal dan keberanian, masih takut gagal.

  2. Semoga selalu semangat berbisnis dan menjalankannya, sayapun masih harus belajar banyak dan senang sekali ikut acara kemarin, menambah pengetahuan seputar bagaimana memulai suatu bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *