(TFF 2018) Diskusi Toleransi: Toleran terhadap Intoleransi?

Hari terakhir TFF 2018 pada Minggu 18 Nov 2018 kemarin jumlah penontonnya membludak karena selain ada penonton umum banyak pula mahasiswa yang hadir. Tak heran karena hari terakhir ini ada diskusi toleransi dengan salah satu nara sumbernya dosen para mahasiswa ini.

Diskusi bertajuk Toleran terhadap Intoleransi” ini dimoderatori oleh inisiator TFF Monique Rijkers dengan menghadirkan narsum :

1. Alto Labetubun (Alto Luger): praktisi keamanan dan perdamaian

2. Satria Adhitama S. Sos., M. Si: dosen Pancasila dan Kewarganegaraan salah satu universitas di Jakarta.

3. Bp. Nasir Abas: penyebar intoleransi yang kini berbalik menjadi penegak toleransi.

Monique Rijkers mengungkapkan fenomena diam terhadap tindakan intoleran saat ini bisa dianggap sebagai pembenaran dan legitimasi. Kenapa diam? Karena orang takut di cap buruk atau dipersekusi. Sebagai contoh tindakan intoleran yaitu pelarangan membangun gereja di wilayah mayoritas muslim. Menyedihkan bahwa hak beribadah harus mendapatkan izin dahulu dari pihak mayoritas. Bandingkan bila posisinya terbalik, sulitnya umat muslim yang minoritas di Eropa untuk beribadah, namun orang Eropa justru membantu dengan membuka gereja mereka untuk tempat ibadah umat muslim, ungkap Satria Adhitama. Beliau juga menekankan pentingnya kita membaca dan mendalami ilmu agar dapat berfikir terlebih dahulu bila ada ajaran tertentu yang ingin masuk kedalam diri kita, jadi tidak semata-mata langsung menerima semua ajaran tersebut.

Alto Luger berbicara tentang penyebaran kebencian dan fitnah yang terjadi saat ini bagaikan piramida dimana puncaknya hanya 1% untuk elit yang berkepentingan, sedangkan 99% dibawahnya adalah pembodohan. Selaras dengan beliau, pengalaman Bp. Nasir Abas di tahanan membuatnya sadar dan kini berbalik arah dari penyebar intoleransi menjadi penegak toleransi.

Berbicara tentang tema intoleransi terhadap bangsa Yahudi di TFF ini, Monique Rijkers sebagai seorang nasrani menerangkan bahwa rasa kebanggaan akan agama nasrani telah membuat kelompok nasrani berbuat semena-mana terhadap bangsa Yahudi pada peristiwa geosida. Di sisi lain, bangsa Yahudi sendiri memiliki rasa kebanggaan atas ras mereka sendiri. Kenyataannya, umat Islam yang mayoritas di Indonesia pun memiliki rasa kebanggaan sendiri yang membuatnya jadi fanatik hingga mendiskriminasikan umat lain. Inti dari kegiatan TFF ini adalah mengubah sikap intoleransi menjadi toleransi dengan memandang semua manusia sama apapun agamanya. Di tahun depan semoga kegiatan ini membuat rasa intoleran semakin berkurang, bahkan tidak ada lagi hingga suatu saat tercipta kedamaian dan TFF tidak perlu diadakan lagi, ungkap Monique Rijkers. Bagaimana tema TFF tahun depan? Sampai jumpa di TFF tahun 2019.

2 Replies to “(TFF 2018) Diskusi Toleransi: Toleran terhadap Intoleransi?”

  1. poin ini kok kayaknya jadi highlight buat saya “penyebaran kebencian dan fitnah yang terjadi saat ini bagaikan piramida dimana puncaknya hanya 1% untuk elit yang berkepentingan, sedangkan 99% dibawahnya adalah pembodohan. ”

    rasanya memang ada benarnya, awalmulanya ada kepentingan, disebarkan ke bawahnya, sisanya hanya ada orang bodoh yng ikut2an saja

Leave a Reply to sabda awal Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *