Museum Fatahillah, Menguak Sejarah Jakarta

Sumber: megapolitan kompas

Minggu pagi di kawasan Kota Tua terlihat masih sepi. Tampilannya kini semakin cantik dan rapi dengan beberapa bangunan tua yang sudah di renovasi, fasilitas umum yang tertata rapi seperti tempat duduk disepanjang sisi lapangan, taman dan pepohonan, pedagang souvenir, spot foto unik, atraksi menarik dan akomodasi sepeda wisata. Lapangan yang luas di kawasan ini biasa dipenuhi wisatawan domestik dan asing yang hilir mudik atau berkeliling menaiki sepeda wisata. Di sisi pinggir lapangan kawasan Kota Tua ini dikelilingi beberapa museum diantaranya Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, Museum Seni. Akhir pekan adalah waktu yang pas untuk menjelajah kota tua bersama keluarga atau teman. Kawasan Kota Tua memang menyajikan wisata edukasi yang murah dan mudah dijangkau karena dekat dengan transportasi umum seperti kereta api dan bus Trans Jakarta.

Minggu pagi di awal Desember lalu, aku bersama teman-teman Komunitas Backpacker Jakarta (BPJ) menjelajah sejarah di kawasan kota tua ini, khususnya mengeliling Museum Fatahillah. BPJ sendiri sering mengadakan trip museum, bahkan memiliki klub khusus bagi pencinta sejarah dan museum, info lengkapnya bisa simak di link ini https://backpackerjakarta.com/. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Kompasiana dan Bank Danamon. Dipandu oleh seorang guide yang menguasai seluk beluk Museum Fatahillah ini, kami mendapatkan banyak sekali informasi dan wawasan terutama tentang sejarah Jakarta.

Sejarah Museum Fatahillah

.

Mengapa Museum Fatahillah ini menceritakan tentang sejarah Jakarta? Ya, karena Museum Fatahillah sebenarnya adalah Museum Sejarah Jakarta. Nama Fatahillah diambil dari nama jalan tempat museum ini berada. Gedung yang kini menjadi Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta dahulunya adalah Balai Kota Batavia yang didirikan oleh Gubernur Jenderal Van Riebeeck (1653-1713), putra dari Jan Van Riebeeck pendiri kota Cape Town, Afrika Selatan. Gedung balai kota ini merupakan yang ketiga, dimana yang pertama dibangun disebelah timur kali Ciliwung dan yang kedua dibangun disisi selatan halaman kota Batavia yang sekarang menjadi Museum Wayang.

Museum Sejarah Jakarta pada awalnya adalah Stadhuis Oud Batavia (Batavia Lama) yang diresmikan tahun 1939 dan kini menjadi Museum Wayang. Pada masa kemerdekaan, museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI). Kemudian pada tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta. Pada tahun 1974, koleksi gedung ini dipindahkan ke Stadhuis yang kini diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Ada Apa Saja di Museum Sejarah Jakarta?

Koleksi yang dimiliki Museum Sejarah Jakarta diantaranya benda-benda kuno bersejarah yang ditemukan disekitar Jakarta dan gedung museum itu sendiri.

Berikut adalah beberapa koleksi dan tempat bersejarah di Museum Sejarah Jakarta:

1. Serpihan alat dari batu

2. Serpihan dan potongan alat masak

3. Gambar rangka manusia dan situs Batujaya, Karawang

4. Batu bertelapak kaki gajah

5. Benda kuno, alat ukur dan timbangan

6. Ruang sidang para tahanan Belanda

Ruangan ini dahulu digunakan oleh kompeni Belanda sebagai ruang sidang para tahanan, dimana para tahanan tidak mendapat pembelaan sama sekali dan langsung dihukum gantung di lapangan depan Museum Fatahillah

7. Penjara bawah tanah para tahanan Belanda

Penjara bawah tanah di kawasan Museum Sejarah Jakarta/Museum Fatahillah ini dahulu pernah dihuni Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien sebelum diasingkan. Ruangan kecil ini dihuni sampai 30 orang dan sebagian dari mereka meninggal dunia di penjara ini sebelum disidangkan karena penyakit kolera.

Sebagai penduduk Jakarta dan sekitarnya, sudah selayaknya kita mengetahui sejarah kota tempat kita tinggal yaitu, Jakarta. Mengenal sejarah kota dan sejarah bangsa dapat membangkitkan kecintaan dan nasionalisme terhadap tanah air. Apalagi untuk generasi muda, perlu sekali mengenal sejarah bangsa agar tidak lupa dan tidak mudah tergerus budaya barat. Dengan mengenal sejarah masa lalu, akan membuka pandangan kita tentang rancangan masa depan.

cover foto: wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *