Cowokku Dicintai Cowok Lain

Senin pagi di awal bulan Desember, sepanjang jalan Rasuna Said tergenang air dari hujan yang sejak semalam turun. Mobil-mobil mewah terlihat bergerak lambat untuk menghindari cipratan air yang akan mengotori mobil mereka yang kinclong. Kecepatan 20km/jam membuat suasana kawasan Kuningan hari itu riuh dengan suara klakson mobil yang ingin bergegas.

Hendra: “siapa nih yang narok roti di meja gue?”

Agus: “siapa lagi paling kalo bukan si Ping2…haha, perhatian banget dikasih sarapan, cieee…usaha terus tuh cewek”

Hendra: “ish…ganjen banget sih tuh cewek, gak doyan gue!”

Mood yang gak karuan selepas melewati kemacetan ibukota, membuat Hendra yang kesiangan sampai di kantor tidak minat merespon perhatian Ping2 pagi itu. Dalam hatinya, melihat muka Ping2 saja ia segan apalagi jadi pacarnya…alamakk, seperti mimpi buruk pikirnya sambil menutup muka.

20 tahun lalu, Hendra adalah remaja tampan idola para siswi di sekolahnya. Tampang artis Korea membuat banyak siswi ngeces tatkala Hendra melintas didepan mereka. Namun hanya Ticka yang mampu membuat Hendra jatuh hati pertama kalinya, ya Ticka adalah cinta pertama Hendra. Gadis Tionghoa sederhana yang aktif di kegiatan rohani ini telah memikat hati Hendra dan pertama kalinya ia jatuh cinta. Sayangnya, Ticka tidak tertarik sama sekali dengan Hendra walaupun sudah banyak pengorbanan yang dilakukannya.

Nyatanya Ticka lebih memilih Steven, cowok STM Tunas diseberang sekolah yang kerap tawuran dengan SMA Bangsa tempat Ticka dan Hendra bersekolah. Sakit hati Hendra tak tertahankan tatkala melihat cinta pertamanya itu justru memilih jalan dengan musuh tawuran bebuyutannya. Beberapa kali Steven menyerang dan melukai Hendra secara fisik dan menyisakan dendam di hati Hendra. Dendam itu bertahan hingga bertahun-tahun dan Hendra sempat mengutuk dan membenci semua perempuan atas kekecewaannya terhadap Ticka. Sejak saat itu sikap Hendra seolah benci dan tidak berminat lagi dengan makhluk yang namanya perempuan.

Kota Jambi sejak 10 tahun lalu bagaikan rumah kedua bagi Amin. Hutan belantara dengan pemandangan gunung serta sawah dan lautan telah memuaskan jiwa petualangnya sejak remaja. Kadang dia harus bertarung dengan hewan buas atau perampok yang melintasi jalan di tengah hutan yang gelap. Dikeluarga, keempat saudara Amin yang lebih tua telah lebih dulu memulai usaha perkebunan kelapa sawit. Tinggallah Amin dan kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Melihat kondisi keluarga yang agak terbelakang, membuat Amin bertekad memperbaiki nasibnya sendiri dengan sekolah yang tinggi di ibukota.

Dengan memboyong kedua adiknya, Amin berangkat ke Jakarta dan mendaftar di sebuah universitas. Beruntung usaha perkebunan keluarganya berkembang pesat, hingga mampu membiayai sekolah mereka. Lulus kuliah perbankan, Amin menapaki pengalaman kerja pertama kali di sebuah Bank swasta. Baru beberapa tahun di Jakarta, Amin tidak memiliki banyak teman. Namun ia bertemu beberapa orang yang hoby berpetualang seperti dirinya. Beberapa kali menjelajah wisata tersembunyi, pertemanan pun semakin luas hingga membentuk sebuah komunitas. Lusi adalah salah satu teman berpetualang Amin yang sejiwa dan ingin membangun komunitas bersama.

Amin: “Lus, kita bawa trip komunitas yuk tiap minggu, mau kan lo”

Lusi: “oke Min, mau gue, biar tambah banyak yang tertarik dan tambah rame nih member komunitas kita”

Lama tinggal di desa, Amin baru merasakan gemerlapnya ibukota. Ia pun keranjingan nonton, karaoke dan nongkrong di cafe. Ia orang yang cukup melek teknologi, bahkan bisa dibilang medsos freak. Terkesan norak memang bagai orang kampung yang baru masuk kota. Begitupun dengan kehidupan percintaannya, Amin masih sangat polos belum pernah jatuh cinta dengan perempuan manapun.

Sejak kecil Linda telah diboyong orang tuanya ke Jakarta. Selama bertahun-tahun Linda tak pernah pulang ke kampung halamannya di Bangka. Bersekolah di Jakarta membuat Linda terlupa akan bahasa daerah dan kebudayaan kampungnya. Gayanya sudah seperti gadis metropolitan dengan logat bicara seperti orang kota kebanyakan. Dia juga orang yang mandiri dan cerdas berkat didikan sang ibu yang wanita karir. Namun jiwanya begitu rapuh, tak mampu menahan badai kehidupan di dunia kerja dan asmara. Berkali-kali cobaan menghantam karir dan kisah cintanya.

Sudah beberapa kali karir Linda terjegal dan gagal mendapatkan promosi. Mentalnya yang polos dan kurang  profesional tidak menunjang karirnya. Begitu pula dengan kisah percintaannya, beberapa kali ia dipermainkan kekasihnya hingga puncaknya, janji nikah itu terabaikan begitu saja tanpa pesan. Bertahun-tahun Linda hidup dalam kekosongan dalam sorot matanya dan senyum yang hilang dari bibirnya. Sikapnya berubah menjadi temperamen. Dalam benaknya, dunia ini tidak adil, ia selau mempertanyakan apa salahnya hingga dia harus menerima cobaan itu. Diapun mulai memprotek dirinya dari ancaman sakit hati lagi dari pria lain.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *