Etika Pergaulan di Group Whatsapp

Masih teringat beberapa tahun silam, euforia menjelang reuni atau acara kumpul-kumpul itu sudah terasa beberapa hari sebelumnya, rasa kangen dan penasaran ingin melihat perubahan teman-teman yang telah lama tak bertemu membuat deg-degan seperti ingin bertemu pacar saja…hahaha. Maklumlah, setiap ingin berkumpul, sebelumnya kita menghubungi teman-teman jauh-jauh hari melalui sms atau telpon. Kesulitan media komunikasi membuat moment saat bertemu itu sangat berharga, mengingat usaha yang telah kita lakukan untuk merealisasikan acara tersebut. Rasanya tak cukup waktu seharian untuk menceritakan kabar dan kehidupan masing-masing.

Kini, era digital membuat semuanya serba mudah dan instant. Aplikasi chatting online membuat komunikasi lama-lama membosankan dan hambar karena setiap hari bertemu walaupun hanya sebatas layar hp. Kehidupan sehari-hari pun telah ter-update di media sosial, maka dengan menatap layar hp saja kita sudah tahu kabar teman-teman dan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini membuat tidak ada hasrat lagi untuk temu kangen atau bersilaturahmi.

Selayaknya pergaulan dalam pertemuan, pergaulan dalam group chatting pun terasa tak jauh beda, seperti di salah satu group chatting yang menjadi favorit saat ini yaitu group whatsapp. Rasanya hanya dengan menjentikkan jempol, semua sudah terwakili. Alhasil, hasrat berkumpul dan bersilaturahmi terasa tak diperlukan lagi karena sehari-hari pun telah bersilaturahmi secara maya melalui layar hp. Lucunya, bagi yang left dari group akan dianggap telah memutuskan tali silaturahmi….what?? Pergaulan saat ini hanya sebatas dunia maya saja kah?

Lalu, saking mudahnya menjentikkan jari tanpa menunjukkan wajah, semua dengan beraninya dapat mengutarakan apa saja didalam group whatsapp tanpa perlu malu karena wajah kita tak tampak, seperti lempar jempol sembunyi hp. Kadang kita tidak sadar saat kebablasan hingga mengganggu kenyamanan, privasi atau perasaan anggota group yang lain. Melihat dari pengalaman bergaul di dunia whatsapp group, akupun ingin berbagi pendapat mengenai etika pergaulan yang perlu diperhatikan dalam bersosialisasi di group whatsapp, yaitu:

Group whatsapp adalah milik bersama, bukan milik pribadi satu orang seperti fan page.

Dengan menyadari bahwa group whatsapp  adalah milik publik, maka anggota group janganlah membuat diri sendiri seperti memiliki group dengan sikap terlalu vokal yang mungkin tidak nyaman untuk anggota yang lain. Tidak pula mengatur atau memarahi orang lain yang tidak seirama, tapi sebaliknya menahan diri dan beradaptasi karena group ini memiliki anggota dengan berbagai karakter dan latar belakang. Dalam hal ini , membuat aturan umum yang nyaman untuk semua anggota group sangat diperlukan.

Group whatsapp bukanlah dIary pribadi, tapi diary bersama.

Berkeluh kesah jangan dijadikan kebiasaan, karena bersyukur atas yang kita miliki lebih baik daripada mengeluh atas apa yang tidak kita miliki. Curhat boleh saja tapi tidak perlu curhat melulu setiap saat tentang kehidupan pribadi. Seberapa pentingkah hidupmu untuk diketahui anggota group lain? Hal ini kadang hanya akan mengganggu kenyamanan anggota group yang lain, bukan? Karena setiap orang pasti punya masalah, bukan kamu saja.

Anggota group whatsapp terdiri dari berbagai karakter dan latar belakang

Berbagai latar belakang suku, agama, ras, status sosial, pendidikan, pekerjaan, membuat kita perlu menghargai perasaan dan keyakinan orang lain. Tidak perlu membahas sesuatu yang berhubungan dengan SARA. Biarlah itu menjadi hak dan privasi masing-masing. Menyinggung soal SARA hanya akan menimbulkan kesenjangan bahkan perpecahan diantara anggota group.

Masalah hati adalah hal yang privasi dan tidak dapat diatur atau diintimidasi.

Kita tidak bisa merencanakan dengan siapa kita menjatuhkan hati in….tsahh. Tidak ada yang salah bila timbul “rasa” diantara sesama anggota group. Namun segala hal yang menyangkut perasaan terutama “cinta” sebaiknya bukan untuk konsumsi publik, karena bisa jadi menyinggung perasaan atau membuat cemburu atau iri anggota yang lain. Perasaan adalah hal yang pribadi dan sakral bagi menghargai arti hubungan, maka bila kamu serius dengan perasaan kamu, tunjukkanlah secara gentle kepada pribadi yang bersangkutan dengan japri langsung.

Hargai privasi masing-masing anggota walaupun batas privasi tiap orang akan berbeda.

Kepo sih boleh, katanya tanda peduli. Tapi kepo berlebihan itu sangat mengganggu karena bisa melewati batas privasi seseorang, walaupun batas privasi tiap orang beda-beda. Privasi seorang introvert akan lebih luas dibanding seorang extrovert. Setiap anggota group juga pastinya punya rahasia pribadi yang tidak ingin diungkapkan karena alasan pribadi pula. Maka tak perlu mengorek-ngorek terlalu dalam kehidupan privasi orang lain. Sekedar tahu boleh saja, tapi bila terasa tidak nyaman bagi orang yang bersangkutan, cukup hentikan interogasi tersebut dan hargailah privasi orang lain.

Seperti kata pepatah, “mencari seribu musuh itu mudah, tapi mencari satu teman itu sulit”, maka tujuan kita bersosialisasi atau bergaul baik dalam dunia nyata atau dunia maya tentulah untuk memperbanyak teman dan relasi. Maka sudah sepatutnya kita menjaga etika pergaulan itu sendiri. Semoga sharing ini berfaedah walau sekedar bertukar pikiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *