Unspoken Luv

Gamang

 

Setahun sudah Lindy bergulat dengan ketidakpastian masa depannya. Terombang ambing dalam waktu menunggu sidang skripsi. Padahal semangatnya sungguh luar biasa untuk segera selesai kuliah dan kerja hingga menguras pikiran. Rasa bersalah dan tidak tenang selalu menghantui karena dia belum juga dipanggil sidang skripsi hingga terhambat mendapatkan pekerjaan. Target…itulah motivasi Lindy untuk menyelesaikan kuliah S1 selama 4 tahun saja, namun takdir berkata lain. Walaupun semua mata kuliah telah diselesaikannya selama 4 tahun, namun langkahnya menuju sidang skripsi terhalang waitinglist kakak kelas yang entah apa yang mereka tunggu. Mereka hanya berlomba-lomba menikah, bukan berlomba lulus kuliah. Nilai akademik yang bagus sedikit menolong nasib Lindy, hingga ia dipanggil untuk menjadi Asisten Dosen oleh Pak Tjipto. Dosen killer  yang selalu bikin spot jantung di mata kuliahnya, tak disangka memanggil Lindy untuk menjadi asistennya untuk 3 mata kuliah sekaligus. Di kampusnya Lindy dikenal sebagai mahasiswi yang pintar, tak heran sejak SD ia selalu mendapat juara kelas dan akhirnya masuk SMA favorit. Entah mengapa ia tidak lolos UMPTN, konon karena “demam panggung” duluan hingga tidak bisa konsentrasi saat ujian, begitulah kata Ibundanya, Ibu Ana.

Tahun yang gamang namun tanpa disadari memberikan kesempatan dan pengalaman besar untuk Lindy. Berdiri didepan audience para mahasiswa yang hanya berjarak 2 tahun lebih muda itu benar-benar tak pernah dibayangkannya. Sosok Lindy yang pendiam dan pemalu kini harus cuap-cuap di depan mahasiswa. Tatapan mata yang fokus memperhatikannya membuat Lindy merasa gugup sekaligus bangga, menyadari dirinya begitu diperhatikan oleh para mahasiswa tanpa bergeming. Entahlah, tertegun akan sosok Lindy yang terlihat hampir sempurna dengan wajahnya yang manis, tubuh langsing, kulit putih dan rambut pirang yang panjang atau mereka memang benar-benar menyimak materi yang disampaikan Lindy. Sempat keluar celetukan dari salah satu mahasiswa pria di sela-sela jam istirahat “kok mirip artis Devi Permata Sari ya”. Komentar spontan itu keluar dari mulut Awan, sosok mahasiswa yang diajar Lindy dengan perawakan kecil mungil namun berwajah manis. ” Kamu keibuan dan perhatian” , begitulah ucapan Awan yang selama ini diam-diam memperhatikan Lindy.

Berbulan-bulan dalam masa mengajar itu, Lindy tak lepas dari kekalutan pikirannya tentang pekerjaan. Cita-citanya ingin membahagiakan orang tua dengan hasil keringatnya sendiri begitu menggebu-gebu. Kadang ia mengeluh susah tidur karena banyak pikiran hingga tak masuk mengajar. Dan puncaknya pun terjadi di  3 bulan terakhir menjelang masa mengajarnya selesai. Sudah 3 bulan Lindy tak bisa tidur nyenyak memikirkan nasibnya. Ibundanya, Bu Ana mendengarkan keluhan Lindy dan berusaha mencari solusi, hingga ditemukannya seseorang yang konon dianggap memiliki kemampuan spiritual dan dapat menyelesaikan masalah Lindy. Benar saja, dihadapan Lindy disuguhi secangkir air putih yang telah dibacakan do’a saaat meyambangi Pak Wanto, sang guru spiritual. Tak lain dan tak bukan, permintaan Lindy hanya ingin cepat dapat pekerjaan.

Beberapa lowongan pekerjaan telah dijelajahi namun hanya mentok di posisi admin untuk lulusan SMA. Lindy pun nekat melamar di posisi lulusan S1 dan ternyata ia mendapatkan panggilan interview disebuah Bank pemerintah di Jakarta. Karakter Lindy yang terlalu secure dengan pandangan jauh kedepan mematahkan langkahnya di posisi bergengsi itu. Mutasi keliling Indonesia menjadi hambatan bagi Lindy yang bercita-cita ingin menikah muda dan segera punya anak. Akhirnya pupuslah posisi itu. Namun tak lama kembali ada panggilan interview di perusahaan asing. Dengan cerdik Lindy mengiyakan bahwa dirinya baru saja lulus, hingga akhirnya diterima di perusahaan itu. Jadwal skripsi yang tinggal sebentar lagi sudah dianggapnya menjadi batas waktu yang tepat untuk mulai bekerja.

 

Tempat Baru

 

Pagi-pagi buta Lindy sudah bersiap-siap berpakaian rapi. Inilah hari pertamanya  bekerja, sementara esok adalah jadwal sidang skripsi. Jarak tempat kerja Lindy yang sekitar 40km dari rumah membuat Lindy berfikir untuk ngekost, begitupula dengan keinginan orang tuanya. Hari pertama menuju tempat kerjanya, Lindy teringat teman kuliahnya Hardi yang tinggal tak jauh dengan tempat kerjanya.  Di ujung gagang telepon genggam, Lindy menanyakan lokasi ke Hardi.

Hardi : “Loe kerja disitu, Le? wah gue tau tempat itu, lo naik bus ke Cikampek aja dulu, nanti gue anter ke tempat kerja elo”

Lindy : “Oke deh, nanti ketemuan di Cikampek jemput gue ya”

Hari pertama kerja, Lindy justru jalan sendiri tanpa diantar Ando sang pacar yang hilang ditelan bumi, justru Hardi dengan baik hati mau mengantarkan Bule, nama gaul Lindy di kampus. Parasnya yang sedikit bule dengan kulit putih dan rambut pirang membuat Lindy dipanggil Bule oleh sebagian temannya. Dengan wajah kagum melihat Lindy, Hardi berusaha mencari info lowongan kepada Lindy sambil memasang wajah sedikit memelas.

Tiba di kantor, di hari pertama Lindy dan satu orang karyawan baru, Lia diajak berkeliling ruang kantor yang luas dan menyatu dengan pabrik untuk diperkenalkan dengan staf satu persatu. Perasaan canggung dan bingung menyelimuti hati di pengalaman pertama Lindy bekerja. Tak sempat memikirkan penampilan, otaknya hanya berputar menyerap informasi di tempat baru ini. Pak Arman sebagai kepala produksi menyambutnya dengan jabatan tangan dan senyuman. Perawakan kecil namun lucu, Pak Arman terlihat gesit dan aktif. Hari pertama ini Lindy hanya berkeliling area kerja sambil memutar otak, mencari alasan yang tepat untuk izin sidang skripsi besok.  Menjelang sore, Lindy menyerahkan sepucuk surat izin untuk Pak Arman bahwa esok ia ingin berpamitan dengan dosen dimana ia menjadi asisten, yaitu Pak Tjipto. Pak Arman mengeryitkan dahi, terlihat bingung sambil tersenyum. Pak Arman dengan wajah imut dan putih memang selalu murah senyum, sedikit bicara namun gesit.

Hari kedua, Lindy berada di kampus tempat ia menuntut ilmu selama 4 tahun dan mengajar selama 1 tahun. Dengan penampilan rapi dibalut jas coklat, Lindy siap menghadapi sidang skripsi hari itu. Materi skripsi sudah dikuasai dan pikirannya hanya fokus pada sidang walaupun hari itu tampak Andri sang mantan gebetan menghampirinya seolah ingin mengucapkan selamat dan sukses dengan sidang skripsinya. Tak diduga Andri hadir hari itu seolah ingin menemani, sedangkan Ando sang pacar tidak ada disamping Lindy saat itu. Padahal Ando sempat menjadi pahlawan yang menyelamatkan file skripsi Lindy yang nyaris hilang, tapi entah kenapa hari itu ia terlihat gengsi untuk menghadapi kenyataan bahwa Lindy telah lebih dulu lulus darinya. Memasuki ruang sidang, perasaan gugup tak bisa ditutupi Lindy, namun ia bisa melewati sidang itu hanya dalam waktu 30 menit saja. Keluar ruangan ia disambut senyuman manis dari Andri yang berperawakan besar dan kulit hitam manis.

Hari ketiga kembali ke tempat kerja, Lindy berusaha menutupi statusnya yang baru saja lulus sidang skripsi, padahal ia mengaku sudah lulus di kantor barunya. Di minggu pertama ia bekerja, Lindy janjian dengan Lia untuk ngekost bareng. Kebetulan senior mereka Mba Uti yang tinggi semampai dengan hijabnya menawarkan untuk ngekost di tempat yang sama. Rumah besar di kawasan alun-alun kota menjadi tempat kost yang nyaman untuk mereka. Suasana kota kecil yang ramai, dekat dengan masjid dan pasar memberikan suasana baru bagi Lindy dan Lia. Berangkat kerja bareng, pulang bareng dan makan bareng membuat mereka tambah kompak.

Beberapa minggu berlalu, Ando seperti bangkit dari kubur dan menelpon Lindy ditengah jam kerja. Tak pernah memikirikan Ando, Lindy pun kaget dan menjawab telpon Ando dengan jutek.

Lindy  : “Duhh…ngapain sih nelpon jam segini, lagi meeting tau”

Telpon pun ditutup seketika. Lalu Ando mencoba telpon Lindy ditengah malam buta beberapa hari kemudian.  Sudah lama tidak memikirkan Ando, fokus pada kerjaan barunya, Lindy merasa telpon dari Ando hanya menganggu waktunya saja. Dengan nada jutek setengah membentak, Lindy menjawab telpon dari Ando.

Lindy : “Ngapain sih telpon malam-malam gini, udah capek tau abis kerja seharian, pusing”

Telpon ditutup, entah bagaimana perasaan Ando saat itu. Akhirnya beberapa hari berlalu, Ando menyambangi kostan Lindy di kota kecil tersebut dengan mengendarai motor sejauh 40km malam hari setelah Lindy pulang kerja.  Sambil duduk di teras depan, mereka berbincang berdua, kiranya melepaskan kerinduan Ando pada Lindy. Namun sayang, Lindy justru meminta Ando tidak usah datang dan memikirkannya lagi. Seperti disambar petir, seketika hancur berserakan perasaan Ando saat itu, namun Lindy seperti tidak punya rasa bersalah sedikitpun. Fokusnya hanya pada karir ditempat barunya.

 

Kisah Baru

 

Dibalik tembok kaca besar pemisah ruangan, Lindy melihat sosok pria kalem nan ganteng diseberang sana. Pria itu sempat memalingkan pandangannya sejenak dari layar komputer. Dengan tinggi dan bentuk badan yang proporsional serta kacamata membuat pria itu terlihat seperti Harry Potter. Cowok bernama Adi itu diam-diam memperhatikan Lindy. Walaupun kurang digubris oleh Lindy, namun ia setengah sadar Adi tengah memperhatikannya. Tak pernah disadari Lindy adalah, ada cowok lain yang juga memperhatikannya, yaitu Asmar. Pria yang sedikit dibawah Adi kadar ketampanannya itu sangat jangkung dan kurus. Mereka berdua diidolakan banyak wanita di pabrik itu. Entah siapa yang memiliki penggemar paling banyak. Asmar seorang lulusan luar negeri dari negeri tetangga yang tak lebih baik dari Indonesia sebenarnya. Tapi predikat lulusan luar negeri memberikan prestise tersendiri untuknya, terlihat dari gayanya yang parlente dan sedikit sombong dengan bahasa yang tinggi. Tak disangka, Lindy dan Asmar menjadi satu team dalam order yang sama dimana Asmar sebagai marketing dan Lindy sebagai produksi.

 

Makan Teman ?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *