Alasan Dibalik Pekerjaan Batu Loncatan

Pernahkah kamu mencari pekerjaan hanya untuk batu loncatan? Pada umumnya, pekerjaan pertama seseorang adalah batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan lain yang lebih tinggi di masa depan. Ya, pada umumnya fresh graduate belum memiliki nilai jual tinggi, maka bekerja sebagai apapun tak masalah karena tujuannya hanya untuk mencari pengalaman dan mengisi portofolio di CV. Begitupun yang aku rasakan ketika pertama kali melamar pekerjaan. Lowongan yang bisa aku masuki hanya sebatas admininstrasi, karena belum adanya pengalaman dan belum ada ijazah (belum lulus).

Beruntungnya, pekerjaan pertamaku ternyata sangat bergengsi, langsung mendapatkan posisi Supervisor di perusahaan asing walaupun masih fresh gradute. Tentu, pekerjaan ini bukan menjadi batu loncatan untukku, justru pekerjaan yang aku impikan. Pekerjaan yang sesuai minat dan kemampuan serta jurusan pendidikan pastinya impian semua orang. Justru di pekerjaan pertama ini aku sudah merasa nyaman dan mempunyai “power”.

Musuhku dalam pekerjaan hanyalah rasa jenuh. Ya, aku memang tipe orang yang mudah bosan, maka aku menyukai pekerjaan yang dinamis seperi sering bergerak dan bertemu banyak orang. Untungnya aku mendapatkan rotasi departemen di perusahaan, sehingga rasa bosan itupun hilang. Apalagi posisi terakhir memungkinkanku memiliki jaringan yang luas hingga ke luar negeri. Relasi dan pergaulan pun semakin luas. Namun, godaan datang ketika team kerja berbondong-bondong resign ke tempat baru dengan gaji yang lebih besar. Akupun mulai tergoda dan ikut-ikutan mencari lowongan baru.

Pindah kerja tidak selalu berarti lebih baik. Pengalaman mengajarkanku, hal penting yang membuat seseorang betah di satu perusahaan adalah kenyamanan kerja. Tempat baru dengan fasilitas dan gaji yang lebih baik belum tentu memberikan kenyamanan. Hal itulah yang kurasakan setelah pindah kerja. Menyesal sempat terbersit dalam pikiran, namun tak pernah kubayangkan bahaa pekerjaan yang penuh tekanan ini ternyata menjadi batu loncatan karirku kedepannya. Ternyata pekerjaan batu loncatan itu tidak selalu pekerjaan pertama.

Bisa dibilang tak sengaja aku terjebur ke dunia industri garment yang menjadi karir yang aku senangi saat ini. Berangkat dari lulusan Teknik Industri disebuah perguruan tinggi di Jakarta, aku merasa duniaku memang tertuju di dunia industri. Sejak lulus kuliah dan pertama kali masuk kerja, aku sudah masuk di dunia industri manufaktur. Di pekerjaan kedua inilah aku mulai masuk di industri garment. Garment adalah industri yang pelik sebenarnya namun cukup dinamis, hingga terasa menyenangkan bagiku.

Pekerjaan kedua ini hanya sebentar saja karena begitu banyak tekanan, namun tak disengaja menjadi pekerjaan batu loncatan. Portofolio CV pun mulai terisi dan aku mulai berpindah-pindah kerja di dunia industri garment. Berpindah-pindah kerja bisa dibilang batu loncatan pula karena memberikan gaji yang lebih tinggi secara cepat. Tentunya dengan berbagai pengalaman sebelumnya yang membuatku mempunyai nilai jual tinggi di perusahaan. Akhinya kini aku bisa mendapati posisi nyaman yang aku inginkan. Nyaman karena sesuai passion dan tingkat gaji yang lebih tinggi dibandingkan industri lainnya.

So, nilai moral yang dapat aku petik dari pengalaman ini adalah “bersyukurlah pernah menjalani pengalaman buruk, karena pengalaman tersebut akan menempamu menjadi pribadi yang lebih tangguh untuk masa depan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *