Review

Cahaya untuk Palu, Donggala dan Sigi

Tuhan…

Mengapa gelap sekali, tak ada cahaya setitikpun

Perih, entah batu apa yang menusuk kaki yang tanpa alas ini

Rintihan suara tangis, begitu sayu menyayat hati

Teriakan lirih memanggil namamu ayah, ibu

Baru saja kudengar deru ombak membahana

Riuh bumi yang bergemuruh

Kini sepi menyeruak malam yang gelap

Hanya terdengar suara batin…”mengapa?”

Tanah kelahiran yang kini hancur luluh lantak

Menyisakan trauma, entah akan kembali atau tidak

Tapi kami terlalu cinta pada negeri ini

Begitu banyak saudara sebangsa yang menyalakan api semangat

Negeriku Indonesia begitu cantik membentang dari barat ke timur. Dengan gugusan pulau dan gunung berapi. Namun, Indonesiaku berada di kawasan rawan bencana. Hingga sering aku mendengar kabar bencana dari pelosok negeri, banjir bandang, longsor, gempa bumi, gunung meletus. Seperti sudah menjadi berita rutin yang menghiasi layar kaca. September ceria kini berkabung duka.

Tak disangka, diakhir bulan September lalu perhatianku teralihkan ke kawasan timur negeri. Palu, Sigi, Donggala dan sekitarnya di kawasan Sulawesi Tengah diguncang bencana. Tak seperti biasanya, kali ini hati berdegup kencang, menyaksikan hebatnya amarah bumi meluluh lantakkan kota yang sedang bersiap bersuka cita merayakan hari jadinya.

Gelombang tsunami dan gejolak bumi seolah berkejaran, menyisakan puing-puing dan tangis ditengah kegelapan. Hati ini perih menyaksikan saudara yang kehilangan sanak saudara hingga masa depan.

Namun negeriku tak hanya cantik alamnya, rasa persaudaraan masyarakatnya menambah keindahan bangsa ini. Begitu banyak bala bantuan yang berdatangan dari pelosok negeri, seolah ikut merasakan kepedihan saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah. Begitu pula teman-teman diseluruh penjuru dunia, ikut bersimpati dan memberikan bantuan kepada korban di Sulawesi Tengah.

Ditengah perselisihan dan persaingan dunia, nyatanya bencana ini bisa menyatukan kita semua. Pemerintah, masyarakat, BUMN, organisasi masyarakat semua saling bahu membahu memberikan pertolongan medis, logistik dan trauma healing tanpa melihat lagi perbedaan suku, agama, ras bahkan pilihan politik. Ya…untuk melakukan kebaikan kita hanya perlu menjadi manusia.

Rabu malam 17 Oktober 2018 kemarin, bertempat disebuah coffee shop di kawasan Jakarta Pusat dilangsungkan acara Nangkring Kompasiana bertema “Energi untuk Sulawesi Tengah”. Nara sumber dari External Communication Manager Pertamina Bp. Arya Dwi Paramita memaparkan peranan Pertamina dalam membantu korban bencana di Sulawesi Tengah. Pertamina sebagai salah satu BUMN di Indonesia yang bergerak dibidang energi ini fokus membantu supply energi untuk daerah bencana di Palu dan sekitarnya. Mengapa energi? Ya…karena semua butuh energi untuk bergerak, ungkap Bp. Arya Dwi Paramita. Sandang, pangan dan papan sebagai kebutuhan pokok masyarakat tidak dapat tersalurkan bila tidak ada energi.

Seperti yang kita ketahui, bencana tsunami dan gempa di Palu dan sekitarnya telah memutus akses jalan dan listrik. Banyaknya bantuan tidak akan sampai kepada para korban langsung bila tidak disalurkan. Kebutuhan logistik perlu disalurkan baik melalui darat maupun udara, dan semua moda tranportasi itu butuh bahan bakar. Rumah sakit tidak bisa maksimal melakukan pelayanan bila tidak ada listrik. Sumber listrik darurat yang ada berupa genset yang butuh bahan bakar agar bisa bekerja. Kehidupan ekonomi perlahan kembali normal dengan adanya supply energi.

Pertamina sendiri mengirimkan bantuan logistik dan relawan kesehatan via darat dengan menggunakan truk namun terkendala akses jalan yang terputus. Warga setempat ikut membantu truk pengangkut logistik dan ahli medis Pertamina agar dapat melanjutkan perjalanan.

Terminal BBM Donggala untuk supply bahan bakar daerah Sulawesi Tengah sendiri berada di tepi laut dan hancur diterjang tsunami. Bisa dibayangkan kesulitan yang dialami Pertamina dan para korban di Palu dan sekitarnya saat terjadi bencana. Dalam keadaan darurat, Pertamina mencoba menyalurkan bahan bakar dari terminal BBM terdekat seperti dari Makassar. Segala upaya dikerahkan hingga pada tanggal 7 Oktober 2018 SPBU Pertamina kembali normal, bahkan 10 SPBU sudah beroperasi 24 jam.

Kepedulian Pertamina terhadap bencana yang terjadi di Sulteng direalisasikan dalam program #PertaminaBersamaSulteng. Bentuk nyata kontribusi yang telah dilakukan Pertamina meliputi bantuan energi, logistik dan tenaga medis berupa :

– 164 ribu tabung LPG untuk operasi pasar di Palu, Donggala dan Sigi. Sampai 12 Oktober 2018 telah tersalurkan 113 ribu tabung melalui 4 SPPBE di Sulteng

– 154 relawan operator SPBU & 39 relawan operator SPPBE

– 95% SPBU di wilayah terdampak gempa di Sulteng sudah mulai beroperasi per tanggal 12 Oktober 2018

– 16 mobil tangki BBM & 1 mobil tangki avtur dengan 34 awak diberangkatkan dari Jakarta dan Balikpapan

– Donasi sebesar Rp. 29,7 miliar per tanggal 12 Oktober 2018

– 11 juta liter BBM dikirimkan pada 3-5 Oktober 2018 melalui jalur laut dengan kapal tanker dari Balikpapan dan Kaltim

– 89 juta liter BBM industri untuk pemulihan per tanggal 12 Oktober 2018

– 13 relawan kesehatan yang terdiri dari 3 dokter umum, 3 dokter spesialis, 5 perawat dan 2 physiotherapy

Apresiasi yang sangat besar tentunya kita berikan kepada Pertamina atas semua usaha dan bantuan yang diberikan kepada korban bencana di Sulawesi Tengah. Selain menyediakan kebutuhan energi untuk Indonesia, Pertamina juga peduli dan cepat tanggap terhadap bencana yang menimpa negeri ini. Selain bencana Sulteng, sebelumnya Pertamina turut pula membantu korban bencana gempa di Lombok.

Acara solidaritas untuk saudara sebangsa ini memberikan kesempatan pula untuk berdonasi bagi korban bencana Sulteng. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat untuk orang lain. Sakit yang diderita saudara kita dibelahan Indonesia lain adalah sakit kita juga. Terimakasih kompasiana yang telah menyelenggarakan acara ini dan Pertamina yang telah memberikan cahaya untuk Palu, Donggala dan Sigi. Semangat dan doa selalu dipanjatkan untuk Sulteng agar segera pulih seperti sedia kala.

Show More

Arlindya

A dreamer, long visioner, blogger & traveller

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button