Thoughts

Hari Anak Nasional, Putus Sekolah Jangan Sampai Putus Semangat

23 July diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Apa kesan yang masih tersimpan saat masa anak-anak? Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Dimasa kanak-kanaknya yang polos, mereka sedang menikmati waktu dengan bermain tanpa ada beban pikiran yang mengganggu. Membayangkan masa kanak-kanak dulu, rasanya ingin kembali kemasa itu. Bermain di lapangan, berlarian kesana kemari, terjatuh, menangis, berkelahi, dimarahi…semuanya adalah proses yang menjadi kenangan hingga kini. Indahnya masa kanak-kanak dahulu, begitu banyak interaksi antar teman dan lingkungan. 

Bagaimana sekarang? Kemajuan teknologi yang pesat sedikit demi sedikit telah mengubah gaya hidup masyarakat. Teman bermain anak-anak kini berubah menjadi virtual berupa game online. Pembangunan yang pesat juga telah menggerus lahan bermain anak-anak. Tidak ada lagi lapangan luas untuk bermain sepak bola atau petak umpet. Hanya sebidang ruang dalam rumah menjadi tempat nyaman anak-anak menikmati dunianya dalam segenggam layar HP.

Namun masalah seputar anak-anak yang masih kerap ada hingga saat ini, yaitu anak jalanan yang putus sekolah dan terpaksa ikut mengais rejeki membantu orang tua. Dahulu pemandangan anak jalanan sudah tidak asing lagi, saat ini mereka sudah dialokasikan ke tempat-tempat tertentu, umumnya pemukiman kumuh tempat mereka tinggal. Pemandangan ibukota yang kontras dengan menjulang tingginya gedung-gedung perkantoran. Sebut saja salah satunya berada di pemukiman kumuh kolong jembatan Kp. Melayu. Pemandangan di desa tentunya tak jauh berbeda, walaupu tidak sekontras kehidupan di kota.

Beruntung sekarang tingkat perekonomian sudah membaik, jadi anak-anak jalanan tidak sebanyak dulu lagi. Apalagi ada program sekolah gratis untuk anak-anak, salut dengan kineja pemerintahan saat ini yang telah memberikan pehatian khusus untuk dunia pendidikan. Pendidikan menjadi hal pokok dalam  pembangunan bangsa karena semua dimulai dari pembangunan SDM-nya. Ditengah ramainya isu zonasi, mungkin hal ini tidak berpengaruh bagi anak-anak putus sekolah yang sibuk membantu orang tua demi sesuap nasi.

Seperti pepatah bijak berkata, “membacalah maka kamu akan mengenal dunia karena buku adalah jendela dunia”. Maka, menjelang Hari Anak Nasional ini, pesan yang ingin disampaikan kepada anak-anak yang tidak beruntung mengenyam pendidikan yaitu, “putus sekolah jangan sampai putus semangat” . Banyak orang hebat yang lahir dari kisah hidup yang sulit. Semangatlah yang merubah nasib seseorang, karena tidak ada yang bisa mengubah nasib seseorang selain dirinya sendiri. Tidak bersekolah bukan berarti tidak membaca buku. Banyak ilmu pengetahuan yang lebih luas bisa didapatkan dari membaca buku.  Bekal ilmu tidak hanya dari dunia pendidikan, namun buku bisa menjadi bekal ilmu untuk melangkah ke kehidupan yang lebih baik. Memang jalannya tidak semulus mereka yang bersekolah, namun sekolah tidak serta merta menjadikan orang sukses. Sikap dan pengetahuan yang luaslah bekal sukses kehidupan.

Berkaca dari buku biografi kisah orang-orang sukses, kiranya bisa menyemangati anak-anak ini untuk memiliki kehidupan masa depan yang lebih baik. Perpustakaan daerah maupun nasional bisa menjadi sekolah mereka. Adapula program buku keliling dari anak-anak muda peduli pendidikan yang sering menetap di taman kota Suropati. Program donasi buku pastinya akan sangat berguna untuk mereka. Beberapa organisasi kerap melakukan kegiatan volunteer mengajar untuk anak-anak putus sekolah, seperti program Let’s Teach dari Internations. Kepedulian masyarakat dan pemerintah ditunjang semangat dan kemauan adek-adek akan mengubah masa depan bangsa. Pengetahuan akan mengubah pola pikir dan sikap yang akan membuka gerbang kesuksesan untuk mereka. Ayo adek-adekku…semangat membaca, semangat ke Perpus, tetap semangat untuk masa depan yang lebih baik.

Show More

Arlindya

A dreamer, long visioner, blogger & traveller

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button