Review

Perempuan Tangguh Pahlawan Keluarga dan Desa Berkat P2P Lending Amartha

Beberapa tahun belakangan ini pemerintah sedang giat-giatnya mendorong kegiatan wirausaha untuk menciptakan ekonomi mandiri masyarakat. Kegiatan wirausaha ini tentunya tak lepas dari permodalan yang merupakan hal penting dalam memulai usaha. Mendapatkan modal adalah kendala utama yang dihadapi masyarakat untuk memulai wirausaha. Di lain sisi, banyak pula pemilik modal yang ingin menginvestasikan dananya untuk usaha produktif agar dananya berkembang. Untuk itu perlu adanya perantara antra pemberi modal dan peminjam modal. Seiring perkembangan zaman yang memasuki era digital ini membuat dunia pinjam meminjam berkembang secara digital pula. Pertemuan antara peminjam dan pemberi pinjaman tidak lagi dilakukan secara manual face to face, namun beralih secara peer to peer (P2P).

Apa itu P2P Lending?

P2P Lending atau Peer to Peer Lending adalah sistem pinjam meminjam melalui platform online dalam suatu marketplace. P2P Lending ini mulai dikenal sejak tahun 2005 di Inggris dan mulai berkembang diberbagai negara di dunia. Di Indonesia sendiri, pionir fintech (financial technology) peer to peer lending diperkenalkan oleh Amartha sejak tahun 2010. 

Saat ini, para wirausahawan dapat meminjam uang di Bank untuk modal usaha. Namun, hal ini menjadi kendala bagi usaha mikro masyarakat pedesaan dengan modal dan pengembalian yang rendah karena sulitnya menjangkau Bank di daerah pedesaan. Untuk itulah Amartha hadir sebagai perantara antara peminjam dan pemberi pinjaman untuk usaha mikro. Cara ini juga dapat menghindari masyarakat dari pinjaman modal kepada rentenir.

Mengenal Amartha 

PT. Amartha Mikro Fintek sendiri berdiri sejak tahun 2010 yang awal mulanya berupa koperasi, kemudian pada tahun 2016 berubah bentuk menjadi fintech peer to peer lending atau perantara pemberian modal. Pemberi dana sendiri berasal dari publik yang ingin menginvestasikan dan mengembangkan dananya melalui usaha produktif masyarakat. Berbeda dengan pendanaan P2P Lending lainnya, Amartha hadir khusus untuk memberdayakan perempuan pedesaan untuk mengembangkan usaha mikro. Amartha sebagai perusahaan fintek terpercaya merupakan profit based company yang mendapat imbal jasa dari mencari investor dan pasang iklan. Namun Amartha tak hanya memikirkan bisnis tapi juga segi sosial yang berupa mengembangkan ekonomi mikro masyarakat kecil. Amartha memberikan cara investasi aman karena dijamin oleh perusahaan penjamin kredit dan diawasi oleh OJK. Mengenal lebih jauh tentang Amartha bisa klik link berikut http://amartha.com

Bagaimana Sistem P2P Lending di Amartha?

Modal P2P Lending Amartha ini berasal dari bisnis partner (investor) dimana 1 investor mendanai 1 mitra usaha (ibu-ibu yang memiliki usaha mikro) dan keuntungannya bagi hasil untuk kedua belah pihak melalui field officer Amartha yang mengumpulkan pendapatan dari mitra usaha secara berkala untuk kemudian disetorkan ke Bank. Field officer Amartha sendiri setiap minggunya melakukan survey ke desa yang belum memiliki koperasi dan bisnis partner untuk kemudian mendapatkan mitra usaha baru. Amartha saat ini sudah memiliki 600 desa dengan mitra usaha. Proses rekruitment mitra usaha dan bisnis partner dilakukan pihak Amartha sendiri dan mereka semua mendapatkan fasilitas asuransi. Investasi pertama untuk menjadi bisnis partner minimal sebesar Rp. 3 juta. Sedangkan mitra usaha bisa mendapatkan modal pertama sebesar Rp. 500 ribu.

Amartha menggunakan teknologi skor kredit dalam proses seleksi calon peminjam dengan algoritma yang memperhitungkan profil, perilaku dan kepribadian. Dengan cara investasi demikian calon investor pun merasa aman dalam menginvestasikan dananya dengan segala perhitungan resiko. Peminjam yang lolos verifikasi melalui interview akan dikelompokkan dengan istilah “majelis” yang terdiri dari 15-25 anggota. Penambahan anggota bisa dilakukan saat mulai periode pendanaan baru dan filter pertama dari para anggota, kemudian melalui proses seleksi pihak Amartha. Sebelum dana diturunkan kepada peminjam yang terpilih (mitra usaha), pihak Amartha mengadakan pelatihan dan pengarahan terlebih dahulu dengan istilah “sekolah”.

Penurunan dana awal majelis harus disaksikan oleh seluruh anggota. Kurun waktu pendanaan dan pengembalian modal adalah 50 minggu dan tiap majelis boleh memiliki lebih dari satu jenis usaha. Segala resiko dalam suatu majelis bersifat tanggung renteng atau ditanggung bersama oleh anggota majelis. Sistem penilaian terhadap anggota majelis menggunakan teknologi kredit skor untuk menentukan jumlah dan waktu pengembalian dana sesuai hasil usaha dan kinerja anggota majelis (mitra usaha). Sebagai contoh mitra usaha yang mendapatkan grade A adalah mitra usaha dengan tingkat kepercayaan pengembalian dana tepat waktu dan tingkat keberhasilan 97%-100%. Anggota yg meninggal di masa kemitraan, sisa pembiayaan akan ditanggung Amartha tetapi putus penerimaan keuntungan.

Mitra usaha yang mendapat bantuan dana dari Amartha saat ini tersebar ke berbagai sektor seperti perdagangan, industri rumah tangga, pertanian, peternakan, jasa, perumahan, pendidikan, kesehatan, dll. Plafon dana yang diberikan pun bervariasi mulai dari Rp. 500 ribu sampai Rp. 5 juta. Periode pendanaan sendiri mulai dari 4 minggu sampai 50 minggu. Semua kegiatan pendanaan dan pengembalian dana serta hasil usaha tercatat melalui platform online Amarta, sehingga hasilnya transparan dapat diketahui semua pihak termasuk bisnis partner dan mitra usaha. Berikut ini contoh laporan mitra usaha yang tergabung dalam Amarta:

Fintek terpercaya dari Amartha ini pastinya memberikan keuntungan dan transparansi untuk semua pihak. Untuk bergabung menjadi investor bisa pakai kode referral AmarthaxSari, daftarkan ke link berikut: https://amartha.com/id_ID/cara-kerja/

.

Apa Dampak Sosial P2P Lending dari Amartha?

P2P Lending dari Amartha khusus menyentuh para perempuan tangguh di pedesaan untuk mengembangkan usaha mikro. Beberapa dari mereka telah berhasil meningkatkan ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar dengan berbagai jenis usaha mikro. Mereka adalah para perempuan pahlawan ekonomi keluarga dan masyarakat. Beberapa waktu lalu pihak Amartha mengundang para blogger c2live untuk menyaksikan dan mewartakan manfaat P2P Lending Amarta dari segi sosial di salah satu desa binaaan Amartha yaitu Desa Parigi Kecamatan Ciseeng, Bogor dalam program Amartha Village Tour. Simak cerita mereka berikut ini.

1. Ibu Ratna sang penganyam keset
.
Ibu Ratna sudah 4 tahun bergabung dengan Amartha dalam majelis ciremai dan punya usaha pembuatan keset. Modal awal yang diberikan Amartga senilai Rp. 500 ribu untuk periode 50 minggu. Ibu Ratna sendiri memegang 3 majelis, yaitu kelapa, ciremai dan rambutan yang selalu mengadakan pertemuan tiap minggu. Perkumpulan majelis cermai Ibu Ratna saat ini sudah memiliki 34 anggota. Bahan baku berupa kain bekas dibeli dari konveksi atau pabrik sekitar dengan harga Rp.3.500-Rp.5.000 per kilonya. Berat barang jadi sendiri sekitar 1/2 kilo biasa dijual sendiri dengan keliling kampung atau dijual ke tengkulak dengan harga Rp.3.500, sedangkan harga jual ke konsumen adalah Rp.5.000. Setiap anggota yang sudah mahir dapat memprodukai 10-15 keset per hari dan sehari bisa terjual sekitar 20-25 keset.

Hasil dari usaha keset ini, Bu Ratna sudah dapat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi dan merenovasi rumah. Bu Ratna adalah salah satu contoh perempuan tangguh pahlawan ekonomi keluarga dan desa berkat bergabung dengan Amartha. Berikut ilustrasi penganyaman keset oleh Bu Ratna dengan senyum bahagia di wajah Bu Ratna.

2. Ibu Lilis sang koordinator pandai besi

Ibu Lilis adalah perempuan tangguh lainnya yang mengkoordinir para anggota yang merupakan suaminya dan para bapak-bapak sekitar. Mengapa anggotanya para lelaki? Karena usaha Bu Lilis ini mengolah besi baja untuk pembuatan pisau, golok, arit, dll. Bu Lilis disini sebagai perantara pencari modal dengan pihak Amartha dibantu suaminya yang merekrut para anggota pandai besi. Bu Lilis sendiri tergabung dalam majelis ciremai seperti Bu Ratna. Usaha mikro Bu Lilis ini sudah berjalan 8 tahun dengan modal awal Rp.  500 ribu, dan periode terakhir pendanaan mencapai Rp. 1 jt. Hasil produksi seperti pisau dihargai Rp. 20 ribu, untuk arit dihargai Rp. 30 ribu- Rp. 50 ribu.

Beginilah ruang kerja pandai besi dan hasil produksinya.

Sayangnya saat kunjungan kami kesana, para pekerja pandai besi sedang libur karena sakit. Hebat ya Bu Lilis ini, sebagai ibu rumah tangga ia mampu memposisikan diri sebagai koordinator kerja suami dan bapak-bapak lainnya. Berkat keberanian Bu Lilis ini, ekonomi keluarga para bapak disekitarnya pun terbantukan.

3. Ibu Sapiasih dengan tambak ikan cupangnya

Ibu Sapiasih tergabung dalam majelis jeruk dengan usaha ternak cupang biasa dan cupang koi denagn modal awal daribpihak Amartha sebesar Rp. 500 ribu. Bibit cupang didapat dengan membeli induk di desa Cogreg, gunung kapur Bogor kemudian diternak sendiri. Ikan cupang ini dijual ke Pasar Jatinegara dengan harga Rp. 15 ribu untuk cupang biasa, sedangkan cupang koi betina dihargai Rp. 25 ribu dan cupang koi jantan dihargai Rp. 50 ribu. Setiap hari Bu Sapiasih bisa menjual 700 ikan cupang. Majelis jeruk Bu Sapiasih saat ini sudah ada 32 anggota dan mempunyai usaha lain seperti gorengan, aksesoris, dll.

Warna warni ikan cupang Bu Sapiasih membuat ikannya terlihat cantik dan sangat menggugah siapapun untuk membeli. Sebagai buah tangan, aku membeli ikan cupang warna emas beserta tempatnya yang ternyata hasil kreasi anak Bu Sapiasih sendiri, sangat unik dan kreatif.

Walaupun baru melahirkan, Bu Sapiasih memang perempuan tangguh, beliau tetap gigih menjalankan usaha ikan cupang ini walaupun dengan keterbatasan. Inilah hasil budidaya ikan cupang Bu Sapiasih

Manfaat sosial dari sistem P2P Lending kepada sektor ekonomi mikro inilah yang membedakan Amartha dengan perusahaan berbasis P2P Lending yang lain, dimana bisnis partner dapat melakukan investasi online dan mitra usaha yang mendapat bantuan dari Amartha dapat menggerakkan masyarakat setempat melalui kelompok majelis untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan desa. Mengapa P2P Lending dari Amartha dikhususkan kepada kaum perempuan? Karena Perempuan adalah makhluk multitasking yang bisa menjadi ibu rumah tangga sekaligus ber-wirausaha. Ibu-ibu sebagai penunjang ekonomi keluarga ini adalah para perempuan tangguh pahlawan ekonomi keluarga dan desa.

Show More

Arlindya

A dreamer, long visioner, blogger & traveller

Related Articles

25 Comments

  1. Menarik! Ini adalah salah satu upaya pemderdayaan perempuan melalui penggalakkan UKM. Dan salut buat Amartha.
    Semoga ibu2 yang tergabung dalam kegiatan ini sukses semuanya.

  2. Aku selalu salut pada para pekerja kreatif home industry kayak begini. Mereka tuh orang-orang kuat yang pantang menyerah dan pinter menangkap peluang
    Semoga sukses yaaaaa

  3. maju terus perempuan indonesia,

    banyak juga project empowerment yg memang diarahkan utk memajukan perempuan krn mrk emrupakan key subject dr pembangunan sebetulnya tertutama di tingkat mikro

  4. Jadi Amartha ini bisa meminjami modal buat usaha2 kecil gtu ya mbak? Ini msh satu grup sama perusahaan travel umroh itu gk sih?
    Oh ya apakah pengusaha yg dipinjamin khusus pengusaha perempuan aja?

    1. Amartha cuma bergerak dibidang simpan pinjam online, gak ada umrohnya. Aman krn diawasi OJK dan aku melihat sendiri ke lapangan hasil binaan umkm nya. Memang khusus untuk umkm ibu2 di pedesaan

  5. Keren sih dengan adanya Peer to Peer Lending seperti Amarta ini para pelaku UKM yang masih sulit dapet modal kredit dari Bank bisa terbantu dan mereka jadi terhindar dari rentenir yang bunganya suka serem itu yah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button